Belajar Arti Semangat Tanpa Pamrih dari Pemuda Lombok Nan Sederhana, Lalu Muhammad Zohri, Juara Lari 100 Meter Dunia

Lalu Muhammad Zohri, pemuda berusia 18 tahun asal Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat beberapa hari terakhir sedang menjadi trending topic di sosial media. Di tengah gegap gempitanya perbincangan menjelang babak final Piala Dunia Rusia 2018, pemuda satu ini berhasil menggugah nurani terdalam masyarakat Indonesia atas prestasinya.

Yup, Zohri berhasil menjadi juara umum mewakili Indonesia dalam Kejuaraan Dunia Atletik Lari 100 meter IAAF U-20 di Finlandia.

Pemuda berprestasi yang pernah menyabet 7 emas untuk kejurnas tahun 2017 dan tahun ini berhasil pula membawa pulang medali emas untuk kejuaraan Atletik Junior Asia 100 meter di Jepang ini bagaikan oase di padang pasir yang menyejukkan masyarakat Indonesia, setelah rasa kecewa kita karena Timnas Sepakbola U-19 Indonesia gagal adu penalti melawan Timnas Malaysia.

Berikut fakta mengharukan tentang Zohri, pemuda sederhana yang berprestasi dalam kondisi keterbatasan ekonomi yang ia alami.

 

Zohri berhasil menjadi juara umum dengan mengalahkan duo sprinter asal Amerika Serikat Anthony Schwartz dan Eric Harrison

Juara yang tak dirindukan. Mungkin kalimat ini sangat tepat ditujukan untuk Lalu Muhammad Zohri yang sama sekali tak diunggulkan dalam kejuaraan dunia ini. Menempati line ke-8 yang merupakan garis terluar dan bukan lintasan favorit, Zohri membuktikan bahwa siapapun berhak menjadi pemenang. Dalam video yang diunggah akun resmi AAF di Twitter, tampak Zohri mulai memimpin menjelang detik-detik akhir menuju garis finish. Hanya berbeda waktu 0.04 detik dari duo sprinter asal Amerika, Anthony Schwartz dan Eric Harrison, Zohri berhasil menjadi yang tercepat dalam waktu 10, 18 detik.

 

Tak ada bendera merah putih yang diberikan panitia dan official ketika Zohri menuju area tribun beberapa saat setelah menyentuh garis finish

 

Gambar : sport.bisnis.com

 

Setelah berhasil melewati garis finish, Zohri berlari ke arah tribun penonton untuk meluapkan kegembiraannya dan melakukan sujud syukur. Namun sayang, belum ada bendera merah putih yang disiapkan panitia untuk diberikan ke Zohri, seperti halnya dua sprinter asal Amerika yang telah siap berfoto bersama Zohri sambil membentangkan bendera Amerika yang mereka bawa. Agak ironis memang, namun pihak official menjelaskan bahwa bendera mengalami keterlambatan kedatangan ke lokasi pertandingan. Hiks… sayang sekali ya. Ini bisa jadi bukti bahwa Zohri memang tak diunggulkan sebelumnya.

 

Siapa sangka dibalik semangat dan prestasinya, Zohri adalah anak yatim piatu yang tinggal di rumah gubuk sangat sederhana

 

Sumber : sport.bisnis.com

 

Sosok Zohri sangat menginspirasi. Dibalik senyum merekah dan semangatnya, siapa sangka Zohri hanya tinggal di sebuah gubuk sederhana beralaskan tanah dan berdinding anyaman bambu yang telah berlubang di beberapa bagiannya. Ibunya telah meninggal dunia ketika Zohri masih di Sekolah Dasar, sedangkan ayahnya yang seorang nelayan dan buruh tani menyusul meninggalkan dunia ini satu tahun yang lalu, saat Zohri sedang mengikuti pelatihan untuk mengikuti sebuah kejuaraan.

Yang membuat hati ini terharu, menjelang keberangkatannya ke Jakarta untuk masuk ke Pelatnas dalam persiapan mengikuti lomba lari AAF ini Zohri sempat meminta sejumlah uang kepada kakak perempuannya untuk membeli sepatu. Dan kakaknya hanya mampu memberi Zohri ala kadarnya saja. Siapa sangka kemenangan justru berpihak kepada anak sederhana yang sejak kecil terbiasa bersekolah tanpa sepatu karena keterbatasan ekonomi keluarganya.

Kisah Zohri diatas sangat menginspirasi bagi kita semua. Dimana ada kemauan, semangat, dan pengorbanan, selalu ada hasil dan kemenangan yang berhasil kita raih. Semoga makin banyak lagi Zohri-zohri lainnya yang akan terus bermunculan di usia muda untuk mengharumkan nama Indonesia tercinta.

author

Author: 

Pembelajar sejati. Menulis untuk berbagi 💖

Leave a Reply