BAJU LORENG

BAJU LORENG

“Mekaniknya sudah datang?” tanyaku pada pak sopir.

“Belum Bu”.

“Kayaknya saya sempat sholat tarawih ya Pak” tanyaku untuk meyakinkan.

“Wah, saya tidak bisa memprediksi Bu, perbaikannya berapa lama”. Tetapi bercermin dari pengalaman Astuti yang ditunggui bis sampai dia muncul, aku yakin juga akan ditunggu seperti Astuti, jika terlambat. Akhirnya aku memutuskan untuk sholat tarawih di masjid dekat terminal “jadi-jadian” itu.

Selesai sholat tarawih kap belakang mobil masih terbuka. Weleh, belum selesai. The most wanted man, sang mekanik sedang mengutak atik sesuatu dibantu dengan penerangan dari lampu bis di belakang kap. Sekarang kernet mengeluarkan dongrak. Waduh, tampaknya ada penyakit baru. Dia memasang dongkrak itu di ban kiri belakang. Badan bis terangkat sedikit. Dia dan seseorang yang ada di kolong bis melakukan sesuatu terhadap roda bis yang menurut pandanganku koq besar banget ya. Untungnya urusan ban selesai sekitar sepuluh menit.

Keramaian “terminal” sudah berkurang. Sebagian besar bis sudah berangkat. Aku kebagian tempat duduk sekarang, di salah satu loket. Tidak lama setelah aku duduk, datanglah ke loket itu tiga orang berbaju loreng. Bukan, mereka bukan tentara. Satu orang, perempuan paruh baya berbadan besar, dengan bergaya dibuat semaskulin mungkin. Dia memakai celana jeans dan jaket loreng. Seorang lagi, laki laki tinggi besar, berkepala botak dan membawa handy talkie. Gayanya seperti pemimpin regu. Yang terakhir seorang laki laki tinggi kerempeng yang membawa beberapa lembar kertas dan pena.

“Jadi, berapa bis yang berangkat sore sampai malam ini?!” tanya si perempuan sambil berdiri di dekat meja petugas loket. Salah satu tangannya bertengger di pinggangnya, di atas pinggulnya yang lebar.

Petugas loket sibuk membuka buku catatan. “Rolas… eh…” Dia akhirnya sampai pada satu kesimpulan angka.

“Catat lu! Catat!” katanya kepada si kerempeng pembawa catatan, sambil menunjuk pada kertas yang dibawanya.
“Bener nih… ada lagi nggak!?” suara si perempuan dibuat setegas mungkin.

“Sudah. Nggak ada lagi”. Penjaga loket mengeluarkan uang dari laci loket kemudian menyerahkan ke perempuan itu. Si perempuan cepat memasukkan uang yang digulung ke dalam kantong celana jensnya.

“Udah ya ? ” si botak pemimpin regu menyudahi “tugas” di loket ini. Dia bergaya dengan memegang handy talkienya, tetapi tidak bercakap-cakap lewat benda itu. Rombongan berbaju loreng itu kemudian pindah ke loket sebelah.

Bekasi, 02 07 2016
Lisa Tinaria

Rate this article!
BAJU LORENG,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: