Hidup Bahagia Menjadi Muslimah

Konon pepatah kuno mengatakan kebahagiaan yang diberikan perempuan hanyalah dua, saat pertama kali menikahinya dan saat mengusung keranda keluar dari rumahnya. Sebuah kalimat yang tajam dan merendahkan kedudukan perempuan. Pada masa lalu bahkan bayi perempuan dibunuh. Anak perempuan tidak boleh sekolah. Pada budaya tertentu bahkan saat suaminya meninggal maka perempuan harus ikut mati bersamanya dalam kobaran api. Pada masyarakat Arab jahiliyah perempuan yang suaminya meninggal maka ia menjadi warisan yang diperjual belikan. Meski pada masa modern ini prestasi perempuan terbukti tak dapat diabaikan tapi sesungguhnya kehidupan perempuan masih terpinggirkan.

Tidak jaman dahulu tidak pula jaman sekarang, kedudukan perempuan masih menduduki stereotype kelas rendahan. Sungguh susah mengubah struktur budaya patriarki yang telah mengakar. Budaya yang terlalu meninggikan kedudukan kaum pria sebagai kelas sosial nomor satu. Salah satu buktinya banyak yang lebih bangga punya anak lelaki ketimbang anak perempuan.

Seorang perempuan sepanjang hidupnya bahkan tak sanggup mendefinisikan makna cantik sehingga ia harus setuju konstruksi sosial bahwa kecantikan itu putih, langsing dan berambut hitam panjang. Perempuan sering hanya menjadi objek seksual tapi tanpa sadar bahwa kemuliaannya dinistakan.

Banyak pula kaum perempuan yang tidak menyadari betapa mulianya kedudukannya. Islam sungguh menjamin hak-hak perempuan. Perempuan sejak lahir di aqiqohkan. Bukti syukur dan keseriusan seorang ayah menerima amanah agar sang bayi tak lagi tergadaikan. Anak perempuan berhak mendapat pendidikan yang baik. Saat dewasa dan menikah ia tidak diwajibkan mencari nafkah dalam keluarga. Tetapi juga tidak dilarang jika ingin mengembangkan diri dan berkontribusi pada masyarakat. Tentu saja dengan tetap menjaga diri dan kodratnya.

Saat sudah menjadi istri, ajaran Islam menempatkan perempuan sebagai mitra bagi seorang pria. Dalam Al Qur’an yang indah digambarkan bahwa kedudukan laki-laki memang dilebihkan satu tingkatan daripada perempuan ( Al Baqoroh 228). Ayat ini bukan hendak merendahkan perempuan melainkan menekankan bahwa posisinya diperumpamakan laksana Jenderal dan Letnan Jenderal ( Pawitasari : 2004). Jabatan Jenderal lebih tinggi satu tingkat┬átetapi tetap harus menghormati istrinya yang jabatannya Letjen. Keren khan? Perumpamaan yang indah dan menunjukkan kemitraan.

Beberapa hadits menggambarkan kemuliaan seorang perempuan. Antara lain saat orangtua mendidik anak perempuannya dengan baik dan mengutamakan pemenuhan kebutuhannya ketimbang anak laki-lakinya maka surga bagi mereka orangtuanya.

Hebatnya lagi, hanya perempuan yang memiliki surga di kakinya. The one and only lho. Khusus untuk kaum perempuan saja. Perempuan bak dewi/ bidadari yang telapak kakinya saja mulia. Masya Allah segitunya terhormatnya kita dalam Islam. Perempuan bak putri dan ratu yang pantang disentuh sembarang orang. Mahkotanya adalah jilbab yang terulur panjang.

Dalam Islam seorang perempuan tidak akan pernah ditinggalkan sendirian. Sudah diatur bahwa perempuan adalah tanggung jawab walinya. Artinya perempuan sepanjang hidupnya dipastikan terlindungi. Perempuan merupakan tanggung jawab bagi ayah, kakek, sodara laki-lakinya dan pamannya.

Seorang Ayah atau wali juga berkewajiban mencarikan jodoh bagi anak perempuan. Seorang ayah yang baik tentunya akan berupaya mencarikan jodoh yang baik bagi anak tercintanya. Dalam mencarikan jodoh ini seorang ayah tidak boleh memaksakan kehendaknya pada anak gadisnya. Dengan kata lain meski ini terlihat sebagai kewajiban tapi sebenarnya adalah hak bagi anak perempuan untuk dicarikan pendamping. Maklumlah makhluk perempuan sering salah membuat penilaian karena terbawa perasaan. Seorang ayah lebih berpengalaman menilai laki-laki mana yang baik untuk anaknya. So, buat yang masih single jangan takut meminta hakmu dicarikan pendamping yang shalih ya.

Kita kaum perempuan juga harus paham bahwa laki-laki yang shalih tahu bagaimana memuliakan wanitanya. Ia tidak akan membebani pekerjaan rumah tangga karena ia tahu itu bukan kewajiban istrinya. Sebaliknya istri shalihah tahu meski ia tak wajib mengurus rumah ia paham bahwa meringankan tugas suaminya dapat menjadikan ridhonya Allah padanya. So, kita jangan salah fokus sehingga terlalu lelah mengurus rumah hingga lupa bahwa kewajiban perempuan adalah mendampingi suaminya dan melahirkan anak-anak berkualitas.

Bagaimana Islam mengatur tentang problematika perempuan yang suaminya meninggal atau berpisah darinya. Tidak ada perempuan yang ingin mengalami nasib demikian. Jika dalam perjalanannya qodarullah seorang perempuan menjadi janda oleh sebab kematian pasangan atau sebab lainnya maka perempuan kembali menjadi tanggung jawab walinya. Rumah orangtua dan walinya akan selalu terbuka untuknya. Ia juga punya hak menentukan masa depan selanjutnya. Sepeninggal suaminya atau akibat terjadi perceraian maka perempuan kembali pada orangtua/walinya atau menikah lagi. Anak-anak diasuh oleh keluarga mantan suaminya. Kalaupun perempuan ingin tetap merawat anak-anaknya maka dikategorikan sebagai jasa merawat anak yang harur dibayar jerih payahnya oleh mantan suami atau keluarganya. Itupun dengan syarat si ibu belum menikah lagi dengan pria lain. Kasih ibu sepanjang hayat itu benar adanya, tapi ia tak berkewajiban mencari nafkah untuk anak-anaknya.

Bagaimanapun anak-anak adalah nasab ayahnya maka ayahlah yang dikenai beban terkait anaknya. Betapa banyak perempuan harus menafkahi diri sendiri dan anak-anaknya selepas suaminya meninggal atau menceraikannya. Ini jelas sebuah kekeliruan yang dilakukan akibat tidak dipahaminya sistem Islam oleh masyarakat. Ketidakpahaman yang merugikan muslimah.

 Berbahagialah muslimah karena sejak kelahiranmu Islam akan memuliakanmu. Memberikanmu warisan yang selamanya menjadi milikmu, menjaga eksistensimu baik sesudah menikah atau sebelumnya. Tetap menjaga kemuliaanmu sepanjang waktu. Muslimah berharga tanpa ia bersusah payah harus membuktikannya. Dari sananya kau sudah mulia. Barokallah.
# Sarapan kata 19
# 1000 penulis muda
# KMO Indonesia

Rate this article!
author

Author: