Bahagia dengan Bersyukur 2

“Kenapa hidupku seperti ini?”
“Aku ingin punya punya kendaraan mewah seperti dia”
“Aku ingin punya rumah besar seperti itu”
Pernahkah terlintas dalam hati atau ucapan kita kalimat seperti ini?. Apa yang sering kita keluhkan pada diri sendiri bisa jadi merupakan kenikmatan besar yang orang lain tidak miliki. Menginginkan sesuatu yang lebih baik tidak dilarang, tapi berambisi dengan apa yang belum kita miliki sering kali membuat kita lupa untuk bersyukur. Padahal salah satu kunci bertambahnya nikmat Allah adalah dengan mensyukurinya.
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan “sesungguhnya jika kamu bersyukur niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat” (QS. Ibrahim ayat 7)
Dari ayat tersebut Allah sudah tegas mengingatkan bahwa dengan beryukur nikmat akan bertambah, maka tidakkah itu menjadi motivasi bagi kita untuk selalu bersyukur?. Besyukur membuat kita selalu merasa cukup walau hanya makan secukupnya dan tinggal di rumah sederhana, kendaraan yang digunakan pun jauh dari kata mewah. Sebaliknya, mengingkari nikmat Allah membuat kita selalu merasa kurang Walaupun kita tinggal di istana. Sebagaimana kisah Qarun yang sangat terkenal dan diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an agar menjadi pelajaran bagi manusia. Qarun dikaruniai Allah harta yang sangat banyak tetapi ia menyombongkan diri dengan hartanya. Ia menganggap bahwa harta itu semata ia peroleh karena kehebatannya, bukan kuasa Allah. Maka sebagai hukuman, Allah menenggelamkan ia bersama harta tersebut. Selain mengingatkan bahwa bersyukur akan menambah nikmat-Nya, Allah juga memberikan peringatan bahwa jika kita mengingkarinya maka Azab Allah itu berat. Coba kita bayangkan, jika kita memberikan sesuatu kepada orang lain tapi yang ia ucapkan bukanlah rasa terima kasih melainkan keluhan-keluhan. Merasa kurang dengan apa yang kita berikan dan tidak menghargainya. Tidakkah itu membuat kita tersinggung dan sakit hati? Bahkan bisa jadi kita tidak akan lagi memberikan sesuatu kepada orang tersebut. Bagaimana dengan pemberian Allah? Setiap hari tak terhitung nikmat dari-Nya, bangun pagi kita sudah disediakan udara segar, beberapa jam kemudian dimunculkan sinar matahari yang manfaatnya luar biasa bagi kesehatan kita. Dihadirkan hujan yang membuat tanaman dapat tubuh dengan baik, darinya dapat kita ambil berbagi manfaat. Mampukah kita menghitung semua nikmat itu? Allah hanya meminta kita bersyukur. Bukan mengeluh dengan panas matahari, tidak dengan mencela yang turun karena semua itu sudah menjadi ketetapan-Nya.
Keinginan manusia memang tidak terbatas, jika sudah mendapatkan apa yang diinginkan akan muncul keinginan-keinginan baru. Dunia memang menggiyurkan tapi jangan sampai kenikmatan dunia menjadi tujuan utama kita, bahkan kita rela menempuh jalan yang tidak diridhoi-Nya untuk mendapatkan ambisi kita. Na’uzdubillah.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply