Bahagia dengan Bersyukur

Bicara tentang syukur, kadang sulit untuk dipahami. Sebagian orang akan menyatakan syukur jika apa ia inginkan benar-benar terjadi, tetapi tak jarang juga orang yang hidupnya biasa saja, rumah sederhana dan makan seadanya tapi ia hidup bahagia dengan kesyukuran.
Saya ingin berbagi sedikit tentang sebuah kisah yang harusnya membuat kita peduli sekaligus bersyukur dengan nikmat yang telah kita miliki. Dia seorang wanita tua, mungkin usianya sekitar 80 atau 90, tapi bisa jadi juga lebih muda dari itu hanya saja kehidupannya yang membuat ia tampak lebih tua. Ia tinggal seorang diri di sebuah rumah yang menurutku tidak layak untuk ditinggali. Dindingnya tidak sepenuhnya membuat rumah itu tertutup sehingga hewan-hewan seperti kucing dan ayam bisa bebas keluar masuk. Atapnya mungkin tidak kuat lagi untuk menahan air hujan sehingga lantai rumahnya yang hanya terbuat dari semen kasar lebih sering terlihat basah. Di dalam rumahnya ada sebuah dipan yang dijadikan tempat tidur, di bagian sisinya yang bersentuhan dengan dinding dipenuhi tumpukan barang, ada pakaian dan juga beberapa barang bekas rumah tangga. di langit-langit rumah tergantung sebuah lampu bohlam yang setelah kuperhatikan kabelnya berasal dari rumah tetangga. Lampu itu menyala dimalam hari tetapi cahayanya tak cukup terang, terlihat remang-remang. Di rumah yang berukuran kira-kira 3 X 2 meter itulah tinggal wanita tersebut, seorang diri. Setiap lewat depan rumahnya aku selalu bertanya dalam hati “Apa ia tidak punya keluarga ?” Ada perasaan iba sekaligus bersyukur. Saya merasa iba dengan kondisinya yang sudah renta dan tinggal sendiri sekaligus aya bersyukur dengan apa yang saya miliki. Ingin rasanya sering-sering mengunjungi rumahnya tapi saya bingung, saya tidak mengerti dengan bahasanya. Teringat waktu saya bersama teman kesana, ia terlihat senang dan bercerita banyak tentang masa mudanya, saya mengetahui itu setelah pulang dan temanku memberi tahu tentang apa tadi ia ceritakan. Saya sama sekali tidak paham dengan apa yang ia bicarakan sehingga hanya menjawab perkataannya dengan senyum sambil sesekali menjawab iya, entah jawabanku sesuai dengan apa yang ia bicarakan atau tidak.
Itu hanya sebagian kecil dari kisah mereka di sekitar kita, di luar sana ada ribuan orang yang untuk makan saja sulit apalagi mendapatkan tempat tinggal yang layak. Hal ini yang membuat saya selalu menyayangkan jika melihat orang lain membuang-buang makanan. Di rumah-rumah makan sering kita menyaksikan banyak makanan yang tersisa dan dibuang begitu saja. Tidak jarang saya menegur teman jika makan bersama dan ada makanan tersisa, biasanya saya makan jika masih bisa karena tidak tega jika dibuang begitu saja. Teman saya kadang bosan dengan sikap saya, tapi tak apalah. Ini juga saya lakukan karena sejak kecil ibu selalu menegur saya jika membuang makanan yang masih layak untuk dimakan.

Rate this article!
Bahagia dengan Bersyukur,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: