Arti Sebuah Pernikahan

 

Bilakah pertama kali Anda bertemu dengan pasangan? Setiap orang diciptakan berpasang-pasangan. Sewajarnya memang demikian. Hanya kapan bertemu dan bagaimana cerita dibalik pertemuan itu masing-masing mempunyai perbedaan.

 

Saya sendiri bertemu suami ketika masih berseragam putih biru, kami sekelas ketika itu. Bisa dibilang kami sudah cukup lama saling mengenal. Tapi, tetap saja, dalam pernikahan selalu ada kejutan, banyak hal tak terduga yang baru ditemui setelah menikah.

 

Berikut saya coba beberkan beberapa tips, bisa dipakai untuk pasangan muda maupun siapa saja yang akan menempuh hidup baru.

  1. There is no live happily ever after. Seringkali kita terjebak dalam kisah roman, tuan puteri yang menikah dengan pangeran tampan, lalu mereka hidup bahagia selamanya. Itu karena mereka menikah atas dasar saling mencintai. Tapi kenyataannya, dalam pernikahan cinta saja tidak cukup. Karena hidup isinya gak melulu soal drama. Ada masalah keuangan, dimana setelah menikah sudah selayaknya hidup mandiri dan tidak lagi bergantung pada orangtua. Juga keterkejutan, ada yang harus dilayani dalam keseharian. Bukan hanya soal kebutuhan batiniah. Tapi dalam segala aspek kehidupan. Apapun masalah pasangan akan menjadi masalah kita. Dan begitu pula sebaliknya. Maka, perlu kedewasaan yang mumpuni, sebelum melangsungkan pernikahan. Bukan hanya soal sudah baligh, tapi mental yang harus sudah dewasa.

 

  1. Kenyataannya : Married is like a gambling. Saya pernah menemukan tulisan ini. Dan ada benarnya juga. Tidak pernah ada yang bisa menjamin, apakah sebelumnya sudah lama berpacaran. Ataukah orangtua kedua belah pihak sudah saling mengenal. Tapi tidak ada jaminan, pasangan kita 100% sudah kita pahami luar dalam, sebelum : menikah. Menikah itu bahkan berbeda dari sekedar hidup serumah. Pasti ada saja, hal yang mungkin baru kita sadari, kita pahami, setelah sah menjadi pasangan hdup. Apapun itu, kita harus siap!

 

 

  1. Tiada seorangpun sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milikNya. Seperti kita yang juga tak sempurna, namun tetap dia memutuskan untuk menikahi kita. Begitu pula sebaliknya. Karena yang jadi pasangan hidup kita pastinya manusia, bukan? Tiada satupun manusia yang luput dari kekurangan. Oleh karena itu, dalam pernikahan, kita akan saling melengkapi satu sama lain. Menjadi “pakaian” bagi pasangan kita masing-masing.

 

  1. Menikah itu tak hanya mengikat janji dengan pasangan, tapi juga “menikahi keluarganya”.

Ini juga hal yang penting dipahami. Jangan hanya menginginkan dia sebagai “prince charming” tapi lantas lupa dari mana asalnya. Selayaknya setelah menikah, mertua seperti orangtua sendiri. Ipar seperti saudara sendiri. Sepupu suami, seperti sepupu kita sendiri. Jaga keharmonisan itu semampu kita. Bukan berarti kita harus melulu sependapat. Bahkan dengan pasangan pun adakalanya berbeda pendapat, itu adalah hal yang lumrah. Yang terpenting, ingat selalu untuk mengendalikan ego masing-masing.

 

  1. Arti dari menikah adalah separuh agama. Well, tampaknya sudah lumayan jelas, mengapa pernikahan itu disebut-sebut dengan beribadah bahkan mencapai separuh dari agama. Karena perjuangan setelahnya memang tidak mudah. Jangan melulu mengharapkan jalannya akan mulus. Tapi sambut saja, apapun masalah yang akan datang di hadapan. Setiap manusia punya ujian masing-masing. Begitu pula, tiap pasangan, tiap keluarga, pasti akan diuji. Dan setiap ujian itu akan semakin mendewasakan kita dan menjadikan diri pribadi yang lebih baik, kalau kita pandai menyikapinya. Setelah resmi mempunyai buku nikah, dengan begitu ke depannya kita tak hanya belajar untuk sekedar jatuh cinta. Tapi bagaimana membangun cinta. Bersama-sama, bergandengan tangan.
Rate this article!
Arti Sebuah Pernikahan,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: