APRESIASI PUISI “NAGASARI”-NYA D. ZAWAWI IMRON

APRESIASI PUISI NAGASARI-NYA D. ZAWAWI IMRON

NAGASARI
(D. Zawawi Imron)

membuka kulit nagasari
isinya bukan pisang madu
tetapi mayat anak gembala
yang berseruling setiap senja

membuang kulit nagasari
seorang nakhkoda memungutnya
dan merobeknya jadi dua
separuh buat peta
separuh buat bendera kapalnya

(Bulan Tertusuk Lalang, hal. 45)

Apresiasi terhadap arti dan makna sebuah puisi, “menyelami”, dan “memasuki” aspek bahasa puitik, diperlukan perenungan dan imajinatif yang lebih mendalam. Hal ini disebabkan, batang tubuh puisi berbeda dengan sintak normatif kalimat-kalimat non-sastra (baca: bukan puisi). Maka, diperlukan pemahaman terhadap aspek bahasa puisi, yang menurut Prof. Dr. Suminto A. Sayuti meliputi :

1. Grafologis, yaitu bentuk penulisan sebuah puisi dari aspek kata perkata, kalimat perkalimat, dan komunika antara kata dan kalimat, termasuk juga aspek penulisan bait puisi.

2. Fonologis, yaitu bentuk irama puisi termasuk di dalamnya adalah bunyi dari kalimat-kalimat puisi, baik sebagai awalan, akhiran, dan bahkan sisipan.

3. Morfologis, yaitu bentuk batang puisi yang termasuk di dalamnya adalah aspek penulisan dengan ciri-ciri tertentu, dan atau ke-khasan masing-masing persona pemuisi.

4. Sintaksis, adalah satuan kalimat yang menjembatani arti dan makna puisi.

5. Semantis, yaitu makna puisi yang terlepas dari arti normatif dalam kata-kata puitika.

Sebagaimana yang juga dijelaskan oleh Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, bahwa puisi D. Zawawi Imron di atas lebih memberikan citraan dengan cara mempertentangkan, membangun kejutan, dan bahkan menyatakan sesuatu yang mustahil: “membuka kulit nagasari/ isinya bukan pisang madu/ tetapi mayat anak gembala/ yang berseruling setiap senja”. Bahkan, “kulit nagasari” itu dirobek jadi dua: “separuh buat peta/ separuh buat bendera kapalnya”. (Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, Berkenalan Dengan Puisi, hal. 85).

“Nagasari” dalam bahasa lokal, Madura, khusunya di Sumenep, adalah penganan (jajan) yang terbuat dari tepung, di antara tepung tersebut diisi dengan pisang (tidak harus pisang madu, mengacu pada puisi di atas, hee…), dan dibungkus daun pisang muda (popos). Penganan ini biasa disuguhkan di sebuah acara selamatan, seperti kematian (to’petto’) dan juga acara-acara selamatan lainnya. Nagasari bukan termasuk dalam kue yang istimewa, makanya ada sebagian yang mengategorikan bahwa bahasa puitik ini termasuk bahasa “ke-rakyat-jelata-an.” Dan puisi Zawawi ini termasuk puisi angkatan 2000-an.

Sulit memang untuk menemukan korelasi dan asosiasi antara “nagasari” dengan “anak gembala” dalam bait pertama puisi di atas: “membuka nagasari…” namun tidak seperti yang biasa kita jumpai, “tetapi isinya mayat anak gembala.” Sebuah kontradiktif yang tentu saja menguras emosi. Mengapa di dalam “kue nagasari” terdapat mayat anak gembala? Tentu yang dimaksud di sini bukan pembawa arti mimesis, akan tetapi terdapat makna lain, yaitu pembawa makna semiosis. Diperlukan jabaran apresiatif yang lebih mendalam guna menemukan nalar makna yang sebenarnya, atau mendekati yang seharusnya, atau pun yang mungkin sebagai penjabaran dari logika yang tidak kontra sosial.

Saya tetap ingin mencoba (maksa? hee…) untuk memberikan ide saya sebagai persona individu, agar khazanah puitika tidak terbelenggu oleh citraan “enggan.” Bahwa makna dari “nagasari” di sini sebagai pelambang/simbol untuk suatu tempat (place) yang penuh dengan aneka kekayaan hayati. Pisang madu adalah rekatan makna akan kekayaan yang dimiliki. Tempat tersebut, nagasari, adalah negeri makmur Indonesia.

Realitas kehidupan di negeri ini, adalah ketiadaan kesejahteraan untuk masyarakatnya: “isinya bukan pisang madu.” Tidak ada kemakmuran. Kalau pun ada, itu hanya untuk orang tertentu saja. Terbatas pada orang yang punya kekuasaan, pemegang kebijakan publik, dan mereka yang punya uang. Sedangkan orang-orang kebanyakan, masyarakat kecil, terpinggirkan dan tergeser dari puncak hak kehidupan yang sejahtera.

Maka, “tapi mayat anak gembala/yang berseruling setiap senja,” secara simbolik, kalimat ini menunjukkan kesahajaan. Rakyat kebanyakan. Orang-orang pada umumnya. “Mayat” adalah lambang kemiskinan, fakir, sengsara, nelangsa, garing, ngenes, terpinggirkan, dan terabaikan. Maka, “gembala yang berseruling setiap senja” telah menjelma menjadi mayat di negeri yang, konon katanya, kaya raya tersebut.

“Membuang kulit nagasari,” sintaksis kalimat ini tidak bersubjek. Sama dengan kalimat di awal bait pertama: “membuka kulit nagasari,” juga tidak diketahui pelakunya. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk ekspresif sekaligus magis, agar pembaca mereka-reka sendiri, siapa sebenarnya pelaku dari semua ini.

“Kulit nagasari” adalah sebagian kecil kekayaan yang “dibuang” oleh orang-orang yang berkepentingan, baik secara individu atau kelompok (partai? hihiii…..sorry!). Maka “kulit nagasari” tersebut diambil oleh seorang nakhoda: “membuang kulit nagasari/seorang nakhoda memungutnya.” Di sini jelas bahwa subjek (pelaku) pemungut kulit nagasari adalah seorang nakhoda. Nakhoda adalah cerminan dari orang-orang yang the have. Tentu saja bisa seseorang dari dalam negeri, ataupun mereka yang datang dari luar negeri yang ingin mengeruk keuntungan berlipat di negeri tercinta, Indonesia.

Jelas sudah bahwa mereka mengambil kulit nagasari untuk dijadikan “peta,” yaitu jalan yang mudah untuk mendapatkan kekayaan yang banyak dari Indonesia. Secara gramatikal, “peta” adalah proyeksi keseluruhan tempat yang ada di permukaan bumi (peta bumi). Sedangkan makna leksikal adalah petunjuk yang dapat memudahkan mencapai tujuan, guna mendapatkan luapan materi yang diinginkan.

“Bendera” adalah lambang kejayaan. Maka setiap negara pasti mempunyai bendera untuk menunjukkan kepada dunia bahwa “kami merdeka.” Kekayaan yang didapat dari Indonesia, yang menyebabkan kesejahteraan menjadi sebuah imaji, diperuntukkan sebagai kejayaan dan hidup dalam kemewahan. Untuk mereka, perampok kekayaan, bukan untuk rakyat Indonesia.

Kesimpulan

Menurut saya, puisi D. Zawawi Imron di atas adalah sebagai pelambang dari keadaan Indonesia. (Sekarang? Bisa sangat amat niscaya). Bahwa kekayaan yang seharusnya untuk kemakmuran bersama, kemaslahatan umat, dan kejayaan rakyat Indonesia, oleh pemegang kebijakan “dibuang” ke negeri orang hanya untuk kemakmuran segelintir orang saja.

Sebagai bagian dari “rakyat jelata” atau kalau dalam bahasa puisi Zawawi: “anak gembala” sewajarnya dan seharusnya kemakmuran adalah milik kita bersama. Bukan hanya segelintir orang yang nota benenya, mereka tidak punya peran banyak dalam perjuangan kemerdekaan (untuk membahasakan ” tidak sama sekali”).

Maka “koruptor” termasuk dalam kategori “nakhoda” yang hanya mementingkan diri sendiri dan koleganya, dibanding dengan kesejahteraan rakyat pada umumnya.

Akhirnya, saya mohon maaf jika jabarana apresiatif ini tidak pada tempatnya, tidak pada wajarnya, dan tidak pada makna yang sebenarnya. Wassalam!

Madura, 1 Agustus 2016

 

author

Author: