Apa Yang Menjadi Tujuan Kita?

Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

Ada masa dimana kita mulai labil dengan adanya berbagai pilihan dalam hidup. Seperti keharusan memilih saat berada di antara persimpangan jalan. Jalan seperti apa dan bagaimana yang harus dipilih. Dimana setiap pilihan tersebut membawa perubahan yang besar nantinya.
Jika hanya Allah Swt sejatinya yang kita tuju maka kemuliaan akan datang dan mendekat kepada kita, serta segala keutamaan akan menghampiri.
“Kemuliaan sifatnya mengikut. Artinya jika kita menuju Allah Swt, kemuliaan akan mengikuti kita. Tapi jika kita hanya mencari kemuliaan, Allah akan meninggalkan kita. Jika kita telah menuju Allah Swt lalu tergoda untuk mencari kemuliaan selain bersama Allah Swt, maka Allah Swt dan kemuliaanNya akan pergi meninggalkan kita”
(Ibnul Qayyim Al-jauziah – Al-Fawaid).
Manusia diciptakan ke dunia ini hakikatnya adalah untuk mengabdi.
Mengabdi kepada Sang Pemilik setiap jiwa.
Ibarat seorang pelayan kepada sang majikan, maka apapun perintah sang majikan akan ia turuti. Demikian pula yang terjadi pada seluruh makhluk di muka bumi ini, termasuk manusia, yang selayaknya senantiasa menjadi hamba bagi Sang Pencipta.
Hal tersebut menjadi sebuah tujuan yang selalu kita jadikan dasar berpijak dalam setiap aktivitas kita.
Banyak hal di dunia ini yang dengan mudah dapat menjadi tujuan hidup dari setiap detik yang kita lalui.
Anak, harta, kemewahan, dan segala perangkat-perangkatnya dengan mudah menggoda setiap sisi jiwa kita untuk berpaling dari tujuan sesungguhnya.
Tujuan penciptaan manusia yang sebenarnya. Ketika kita diciptakan hanya untuk mengabdi kepada Allah Swt, maka seketika itu juga sebuah tujuan tertancap di dalam diri kita bahwa Allah Swt adalah tujuanku.
Namun di tengah-tengah perjalanan hidup kita, seringkali kita lupa ke mana arah yang kita tuju. Tak jarang kita berada di persimpangan jalan menuju selain Allah Swt. Terkadang pula, kita menjadi seorang yang dengan mudah ujub dan takabur tanpa kita sadari.
Merasa diri ini paling baik di antara semuanya. Merasa bahwa seluruh amal kita adalah amal terbaik dibandingkan orang lain.

Bahkan tak jarang pula, setiap detik hidup kita dilalui karena sebuah pujian yang indah.
Adakah itu semuanya tujuan awal kita…?

Rate this article!
author

Author: