Apa Kabar Mantan Sahabat? (4)

“Vin?” Aku mengambil duduk di sebelahnya. Ku beranikan diri menyentuh pundaknya. Dia tetap diam. Telapak tangannya menyangga dahi.

“Soal Bella?” Tebakku. Aku sudah mulai kesal menunggui keterangan dari mulutnya. Ampuh. Dia langsung menurunkan tangannya. Matanya yang memerah menatapku nanar. Rasa iba semakin membesar. “Bella kenapa?”

“Aku sayang banget sama Bella.” Ungkapnya masih menatapku.

“Iya aku tahu.”

“Bella terus-terusan minta aku damai sama Rev, sama anak-anak BAJINGAN.”

Aku hanya mendengar saja sampai dia selesai berbicara. Sementara mendengarkan ceritanya, ingatanku memutar asal mula permusuhannya dengan anak-anak Paskibraka yang disebutnya BAJINGAN. BAJINGAN adalah singkatan dari Barisan Penjinjing Ucapan. Dulu, di pinggir lapangan basket, kami pernah menonton Paskibra sedang berlatih baris kreasi. Dia berbisik di telingaku. “Mereka Bajingan.” Kontan saja aku mengerutkan kening. Kenapa ucapan Kelvin kasar sekali. Memangnya anak-anak Paski pernah melakukan apa sampai dia menjuluki mereka dengan kata umpatan.

“Vin, udah ceritanya?” Tanyaku memastikan Kelvin sudah selesai mengeluarkan uneg-uneg di hatinya. Dia mengedipkan mata sambil membenahi posisi duduk.

“Boleh nanya dulu nggak akunya? Hmmm.” Aku melanjutkan. Kelvin mengangguk.

“Emang kenapa sih kamu kok bisa benci banget sama anak Paski? Sampe anak-anak sekelasmu juga ikutan benci.”

Kelvin menghela napas. Dia pasti sadar sendiri kalau ingin mendapatkan saran dariku maka dia harus menjawab setiap pertanyaanku. “Kita pernah”

“Eh, kita itu siapa?” Aku memotong.

“Aku dan temen-temen laki-laki di kelas ini.” Terangnya ku ikuti anggukan kepala.

“Janjian futsal bareng. Yang ngajak mereka, kita iyakan. Terus pas hari H kita datang ke tempat futsal eh ternyata belum dibookingkan. Kita booking dah waktu itu. Langsung. Kamu tau Ay, mereka sulit dihubungi. Udah molor panjang, tiba-tiba ngechat Cuma buat ngebatalin janji. Cobak tuh lakik nggak mereka.” Nada bicara Kelvin mulai meninggi. Aku hanya menyimak setiap ceritanya. Apa mungkin di dunia laki-laki futsal sama seperti janjian mau kumpul bagi anak perempuan? Hmmmm. Aku tak terlalu memahami futsal dan itu juga bukan permainan yang menarik bagiku.

Rate this article!
Tags:
author

Author: