Apa Kabar Mantan Sahabat? (3)

Apa salah kalau aku marah? Belajar egois? Belajar jahat? Dia harus diberi pelajaran. Ya mending kan aku yang ngasih pelajaran daripada Tuhan turun tangan terus dia lebih kesakitan. Aku marah karena aku masih sayang dan ada perasaan. Aku tahu ini salah. Tembok di antara kami membentang ke atas, sangat tinggi. Apa yang bisa aku lakukan sekarang, Tuhan?

Pikiranku berkecamuk tak jelas arahnya. Bulir-bulir bening mengusapi kedua pipiku yang mulai tembam akibat liburan beberapa hari terakhir. Suara isakan terdengar di antara keheningan. Aku melihat air bening itu sudah menjalari guling yang ku peluk. Apa ibu mendengar isakanku? Rasanya sulit sekali bercerita ke orang lain tentang apa yang ku rasakan. Bagaimana bisa bercerita sementara aku sendiri sedang tidak tenang. Bagaimana jika nanti kata-kata yang keluar malah penuh umpatan. Pasti orang yang mendengar akan kasihan padaku dan aku tidak suka dikasihani.

“Hiks…hiks…” Tiga buah jari di tangan kananku mengelap hidung yang mulai mampet akibat kelamaan menangis.

“Ah, cuk.” Umpatku pada angin yang datang dari arah jendela terbuka. Aku merasa sedih merasakan apa yang menimpaku. Kenapa aku sampai mengeluarkan kata kotor itu? Ku ingat-ingat lagi aku hampir tak pernah mengucapkan kata umpatan seburuk itu. Bagi kami orang Jawa, umpatan misuh dalam kondisi emosi adalah kata yang sangat kasar. Namun dalam persahabatan, ketika misuh diucapkan dengan nada bercanda pasti akan semakin mengakrabkan suasana.

Ku usap ke atas ke bawah layar smartphone tipisku. Pesan di whatsapp masih menyimpan beberapa memori antara Kelvin dan aku. “Arrrghhh…” Ku lempar begitu saja smartphone putih itu ke atas kasur. Sekarang aku merasa lebih tenang menenggelamkan wajah ke bantal. Aku benci melihat semua memori antara lelaki berwajah bulat itu. Dia sama sekali tidak tampan. Tapi mantan pacarnya berserakan. Dulunya aku selalu mengejek cewek-cewek yang dalam beberapa hari dekat langsung mau digebetnya. Bayangkan saja, Kelvin adalah lelaki berjerawat, kulitnya sawo matang malah cenderung coklat tua, giginya tidak rapi dan kurang kinclong, dia suka mengeluarkan kata-kata kotor dan terakhir dia adalah pemuja wanita. Saking memujanya, setiap keindahan wanita selalu dipuji. Entah dalam kondisi dia masih punya pacar, bersama pacar, di samping teman atau mungkin juga di depan keluarganya. Aku merasa heran dengan mantannya yang banyak, tapi ku pendam saja rasa penasaran tersebut daripada harus menerima jawaban ‘kepo.’

“Aku bingung.” Katanya suatu hari.

“Kenapa?”

“Jangan di sini. Ayo ke kelasku.” Lantas Kelvin menarik tanganku yang memakai seragam lengan panjang. Awalnya aku ingin menolak, tapi dia menarik dengan spontan, jadi ku biarkan saja.

“Aku pengen cerita, Ay.” Katanya lagi ketika sampai di mulut pintu. Ku lihat di dalam kelasnya ada beberapa anak yang semuanya laki-laki. Aku tahu namanya tapi tidak semua ku kenal. Kelvin mengajakku duduk di bangku belakang. Kakinya menghadap kepadaku. Badannya sesekali mengarah ke teman-temannya untuk memberi instruksi, dia menjalankan tugas sebagai sutradara tugas film bahasa Indonesia.

“Ay,” Lirihnya seraya mengusap sebagian rambut. Tidak ada cahaya sama sekali di wajahnya. Dia tampak kebingungan dan bersedih hati. Tidak tega aku membiarkan teman SMA ini berlama-lama dalam kondisi seperti itu.

“Kamu kenapa sih, Vin?” Tanyaku hati-hati. Suasana di kelas bagian belakang hening. Teman-teman Kelvin sudah selesai take film. Mereka mulai saling menjabat tangan Kelvin karena mau pulang lebih dulu. Tinggalah kami berdua di dalam ruangan. Perasaanku sungkan, tapi ku tahan saja. Rasa kasihan melihat Kelvin sedih lebih besar.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply