Apa Kabar Mantan Sahabat? (2)

“Lhoh?” Aku mulai kebingungan dengan ulah gadis kecil ini. Dari suara batuknya kelihatan ada dahak. Dia tiba-tiba berlari ke kamar mandi. Meninggalkan aku yang masih saja bingung dengan apa yang terjadi.

“Kamu kenapa?” Tanyaku sekembalinya dari toilet.

“Nggak papa. Cuma batuk” Waktu itu tak ada rasa curiga sama sekali dariku kepadanya.

“Anter pulang ya kak.” Rita berhenti menyeruput teh buatanku. Sebenarnya tak ada maksud menolak keinginan anak sekecil itu. Apalagi jalan raya semakin hari semakin ramai saja. Tak tega rasanya membuat dia pulang sendirian. Ah, kemana pula masnya kok lama tak menjemput. Aku mencela Kelvin dalam hati. Kayaknya dia memang sengaja tidak menjemput adiknya supaya aku datang ke rumahnya. Mungkin dia tahu apa yang akan ku lakukan bila dia mendatangiku. Aku paham benar dia adalah laki-laki super gengsi yang pernah ku kenal. Begitu pula dengan tingkat egoisitasnya yang tinggi.

Sebenarnya setiap manusia pasti punya sisi egois. Kan tidak mungkin jika kita terus-terusan memikirkan orang lain. Aku sendiri tak pernah terkesan dengan lilin yang mau mengorbankan dirinya sendiri untuk menerangi sekitar. Karena begitu sumbu lilin habis, maka lingkungannya akan kembali gelap. Setidaknya jika ditanya tentang semangat, aku masih sering menghubungkannya dengan obor. Obor memang memiliki sumbu, tapi begitu sumbunya habis kita tidak perlu mencari obor lagi supaya bisa menerangi. Cukup isi sumbunya saja yang diganti, obornya tetap yang satu itu.

Sejak kecil orang-orang selalu menganggapku terlalu baik. Aku sendiri juga bingung mengapa mereka menganggap aku baik. Baru setelah mengenal Kelvin, aku memiliki keinginan menonjolkan sisi egoisku. Yap. Dulu aku seperti lilin yang selalu berpikiran ‘ah yang penting orang lain seneng dulu. Ntar kalo mereka seneng aku juga bahagia.’ Itu adalah ucapan terbulshit yang ku pelihara bertahun-tahun. Padahal dalam hati kecil ada luka yang tak pernah ku bagikan pada orang lain. Semakin ku pendam lukanya, semakin terasa pula perihnya. Akibatnya, sebuah penyakit jiwa menyerangku.

Kalian pasti tidak akan percaya jika aku mulai mengaitkan cerita tentang Rita, Kelvin dan penyakit jiwaku. Bagiku, mengenal Kelvin adalah pengalaman sangat berharga. Ada banyak hal yang ku dapatkan. Dia membantuku bangkit dari perasaan-perasaan tak nyata, pikiran aneh, keinginan tak masuk akal dan tindakan membahayakan lain. Namun sayangnya, seindah apapun bungkus kado, kalau isinya tak indah, kesan yang diterima tetap tak indah.

“Aku bisa saja memaafkanmu kalo yang kamu lakuin cuma merepotkan tanpa henti, penampilan gak rapi, merokok dan beberapa kenakalan kecil. Tapi beda ceritanya kalo udah masalah kebohongan dan pengkhianatan.” Kataku sewaktu kami bertengkar. Saat itu nada bicara tinggi sekali. Mungkin Kelvin melihat ada bara di bola mataku. Sehingga dia hanya diam menatap aku yang terus marah-marah meluapkan isi hati. Aku tak bisa menahan lagi. Sejak kenal Kelvin aku ingin mencoba menjadi egosi, tapi selalu gagal. Baru setelah mengetahui pengkhianatan serta kebohongannya, aku bertindak egois tanpa ku sadari. Tingkat egois yang lebih tinggi dibandingkan Kelvin. Itulah yang ku mau.

Ketika kita mencintai seseorang lalu marah akibat khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya, kita bisa saja marah. Akan tetapi kita tidak akan mampu meninggalkan dia bangkit sendirian, kesepian. Dulu sebelum aku tahu kebenarannya, aku tak pernah bisa mendiamkan Kelvin lebih dari 4 hari. Menurut ilmu psikologi, kalau ada pasangan yang sanggup marahan lebih dari 4 hari tandanya mereka tidak benar-benar saling mencintai. Pernyataan itu mengandung kebenaran. Namun kali ini aku sengaja menolak kebenaran.

Kita pernah berjalan bersama, saling menggenggam dan melindungi. Perlahan-lahan kemudian saling menyakiti lantas melupakan tanpa harus diajarkan caranya.

“Kenapa sih Vin mesti kayak gini?” Bentakku melanjutkan. Kelvin masih diam saja. Sekarang dia menunduk. Mungkin dia bingung mencari jawaban yang pas agar emosiku tidak semakin meledak. Yes. Kebiasaannya memang menyebalkan. Aku sendiri heran padanya. Dengan siapapun bermasalah, harus orang itu yang meminta maaf duluan pada Kelvin. Aku pun juga begitu ketika awal perkenalan. Ku pikir aku telah melakukan kesalahan besar yang tak ku sadari hingga melihat wajahku saja Kelvin enggan. Lantas semakin dalam aku mengenalnya semakin aku membencinya. Sayangnya, dia pandai membuat perempuan nyaman.

“Omong tok.” Tandasku menggebrak meja.

Rate this article!
Tags:
author

Author: