Apa Kabar Mantan Sahabat?

 

 

“Kalo kakak cerita, mungkin akan menyakiti meskipun kakak sudah bilang tak ada niatan sama sekali.”

“Ceritakanlah. Kalian pasangan serasi. Kenapa tiba-tiba begini. Jangan bohong kak.” Sahut Rita dengan intonasi mendesak. “Bukankah kakak sendiri yang mengajariku berbohong itu dosa dan merugikan orang lain? Lagi pula tujuan kakak berbohong pasti tidak ada udzur syar’i.” Lanjutnya membuatku mendongakkan kepala. Dia membawa kata syar’i yang tidak pernah diajarkan agamanya. Rupanya ajaranku itu menancap di kepalanya.

Ku hela nafas panjang. Ku tarik kedua sudut bibirku secara paksa. Di tengah isu SARA yang sedang ganasnya menerpa semua saluran informasi dan sosial media, ku rasa bukan waktu yang pas untuk menceritakan perihal renggangnya persahabatan kami. Lagi pula siapa pula anak kecil ini sehingga aku harus meladeninya. Sesungguhnya dalam hati kecilku sudah muak jika harus membahas perkara persahabatan maupun percintaan.

“Bagaimana kalau dengan syarat?” Usulku mengulur waktu. Aku hanya tidak ingin melebarkan luka yang belum kering. Setidaknya tunggu dulu sampai situasinya mereda. Pertanyaan Rita justru melukaiku tanpa disadarinya. Namun aku tak berhak marah karena pasti dia juga penasaran sekali mengapa kami bisa berubah 180 derajat. Oh Allah, kuatkan hambamu untuk menceritakan yang sebenarnya.

Setetes air hujan mengenai ujung sepatuku. Ku pandangi sejenak. “Dek, kamu nggak pengen hujan-hujan?” Tanyaku sesantai mungkin pada Rita yang terus menatapku penuh selidik.

“Mau asal kakak cerita.”

Ku iyakan saja kemauannya itu sebab memang tujuanku adalah menutupi kesedihan mendalam. Setidaknya, dengan dalih masa kecil kurang bahagia sampai di usia sebesar ini masih ingin main air hujan, aku dapat menyelimur Rita. Pasti sulit membedakan air mata dengan air hujan. Sementara anak kecil itu mengganti seragam sekolahnya, aku menyiapkan mental. Sangat tidak sopan bila adik mantan sahabatku ku suruh pulang begitu saja. Padahal dia mampir ke rumahku selepas sekolahnya bubar. Anak SD kelas 5 itu mungkin melihat kelakuan masnya berubah beberapa hari terakhir ini, dan seperti katanya, Kelvin tidak mau menceritakan apapun yang menjadi penyebab kemurungannya. Seluruh anggota keluarga jadi ikut murung.

Aku sendiri tidak pernah merasa bersalah telah menenggelamkan Kelvin dalam kesedihan sebegitu parahnya. Bahkan jika dia depresi, aku lebih tidak mau melihat wajahnya lagi. Seharusnya dalam kondisi seperti itu, sebagai laki-laki sejati dia melakukan tindakan memperbaiki keadaan. Bagaimanapun, aku masih tetaplah wanita. Setegas dan sebenci apapun tampaknya, hatiku dapat luluh hanya dengan permintaan maaf yang disertai bukti tak akan diulangi.

Antara cinta, persahabatan, dan aturan agama. Sejak pertama kami mengenal kemudian mulai dekat, aku tidak pernah membatasi diri. Bukankah di negara kami diakui 6 agama resmi? Bebas saja kami menjalin hubungan. Sayangnya, sebagai manusia normal, aku tetap tidak ingin diperalat. Malah mungkin bila Kelvin seiman denganku, aku akan lebih keras mengingatkanya.

3 tahun sudah kami bersahabat. Seperti kata orang, tak ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan. Apalagi yang sampai memasuki usia tahunan. Tapi aku acuh saja. Toh, kami memang tidak pacaran secara resmi meskipun orang lain yang tidak mengenal kami pun bisa dipastikan menilai kami terlalu berlebihan dalam bersahabat. Kelvin mungkin tak pernah berniat menembakku, aku pun begitu.

“Rita sudah makan?” Tanyaku ketika dia berada di dalam kamar. Sebelum pertengkaranku dengan Kelvin, sudah biasa anak kecil berambut ekor kuda itu memasuki kamarku, memainkan boneka babi dan pandaku, atau mencoret-coret binder kosongku. Kadang kala dia menitipkan barangnya di sini. Jarak sekolahnya dengan kediamanku memang lebih dekat dibanding rumahnya sendiri. Jadi jika belum dijemput, Rita lebih suka menunggu sambil mengerjakan P-R bersama adikku. Lalu kakaknya akan mengambil Rita sekitar setengah sampai sejam kemudian.

“Nggak lapar.” Jawab Rita singkat. Dari raut mukanya sudah sangat kelihatan dia tidak ingin meladeni basa-basiku. Terbukti. Tiba-tiba ditariknyalah tanganku menuju teras. Di luar sana hujan tak terlalu deras tapi juga bukan rintik kecil yang berpotensi menyebabkan demam. Aku tersenyum melihat Rita yang mulai mengerucutkan mulutnya. Dia sebal denganku yang terlalu banyak alasan agar tidak jadi bercerita.

“Bohong dosaaaaaaaa.” Teriaknya di samping telingaku. Sekarang aku malah tertawa. Entah mengapa ketika mendengar suara cemprengnya tiba-tiba separuh luka di hati mengering. “Amasa….” Ledekku. Kami malah mulai tertawa di bawah hujan. Aku tidak jadi menyembunyikan apa-apa di balik banyaknya air langit. Tawa tak bisa ditahan-tahan. Kami menyusuri desa dengan beberapa cerita. Ku lihat dia mulai senang.

“Kemudian, si babi pergi berlibur ke Dufan bersama rombongan temannya dan mabuk setelah naik hysteria.” Pungkas ceritaku yang sebenarnya ku karang sendiri. Rita sangat menyukai babi, apalagi babi yang berwarna merah muda. Sampai-sampai seluruh bukunya diberi sampul bergambar babi. Aku tidak pernah melarangnya. Babi menjadi sumber bahagia Rita. Katanya selain imut, dagingnya lebih enak daripada ayam.

“Cobain deh kak. Hmmmm”

“Apaan?”

“Pig”

“Uluuuh, Rita. Di agama kakak ndak boleh makan babi.” Jawabku seraya mengusap kepalanya.

“Takut kena cacing pita? Hehe ini udah dimasak spesial kok sama mama. Cacingnya udah tewas.” Balasnya dengan gaya tangan menebas musuh.

Aku hanya tersenyum. “Haram itu kalo dilakuin dapet dosa. Hehe. Mau diolah kayak apapun tetep nggak boleh. Kakak nggak mau deh hidup kepanasan di neraka. Tuh rasain di luar aja udah panas banget.” Kataku mencoba memahamkan. Rita tak menggubrisku. Dia terus saja melahap isi kotak makan yang dibekali mamanya tadi pagi.

Hujan mulai reda perlahan. Aku dan gadis itu memutuskan kembali ke rumah. Biar dia mandi di rumahku. Lagi pula dia sudah mulai lupa dengan pertanyaan awalnya tadi akibat ku sajikan cerita tentang Babi yang menjadi traveller.

“Kak, perut Rita sakit.” Ucapnya mendadak meringis.

 

Rate this article!
Apa Kabar Mantan Sahabat?,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply