Antara Cinta dan Candu

Hidup adalah tentang bertahan. Sumber kekuatannya adalah cinta. Cinta adalah karbohidrat kehidupan ini. Dia adalah sumber energy yang  terbakar meletup-letup menghasilkan  kekuatan. Dengannya,  manusia hidup, bergerak dan beraktivitas. Dengannya pula, kita dapat bangkit dari terpuruknya hidup. Itulah cinta, membangkitkan dari kemalasan. Menguatkan yang pernah terkapar lemah. Menyalakan semangat yang hampir mati. Menjadi penerang ditengah pekat gulita dunia. 

Kekuatan cinta membuat manusia tetap eksis dimuka bumi. Mewariskan semangat dari generasi ke generasi. Melahirkan prestasi-prestasi dalam sejarah umat manusia. Manusia terlahir, hidup dan pergi dari dunia karena adanya kekuatan cinta yang Maha Dahsyat dari Sang Pencipta Cinta.

Jika cinta adalah pelepas dahaga dan penumbuh bahagia, maka ia umpama madu;  manis, menyehatkan dan menyembuhkan. Menyembuhkan dari sakit yang melukai. Ingin kita teguk setiap hari, pada setiap detik yang berlalu agar hidup senantiasa terasa semanis madu. Agar detak bahagia senantiasa dirasa dalam dada. Meneguk Cinta kadang selalu membuat kita lupa akan adanya  pahit sebagai sisi lain dari hidup ini.

Cinta adalah segala memanisan buah yang memanjakan indra. Menyenangkan hati. Elok dalam pandangan. Seperti kita melihat berumpun-rumpun anggur atau korma menggantung dipohon. Ingin segera melahap, memetiknya dari tangkai dan merasakan ledakan rasanya hingga tak tersisa.

Cinta dengan segala aneka rasanya, bila tidak dijaga kemurniaannya, maka ia tidak jauh berbeda dengan Anggur, Kurma atau Madu. Cinta dapat berubah menjadi candu, sesuatu yang  memabukkan. Membuat  manusia tak tahu diri.

Ketika keliru memaknainya, maka manusia akan binasa karenanya. Ia dapat berubah menjadi sesuatu yang sangat berbahaya. Seperti yang kita kira manis diawal akan semanis perjalanannya hingga terminal tujuan. Tidak. Cinta nyatanya tidak selalu semanis dan seindah mimpi-mimpi manusia.

Cinta bisa berubah menjadi tirai tebal nan panjang yang menghalangi jalan orang-orang yang tersesat dibelantara tipuan kemauan dan keinginannya semesta. Ia bisa merubah berubah menjadi  penghalang akal untuk berpikir.

 

Cinta pada Diri Sendiri

Yunani, negeri berjuta mitos melahirkan kisah Narcissus. Dewa Narcissus terlahir dari pasangan Dewa Cephissus dan Dewi Liriope. Sejak kecil, raut-raut ketampanan sudah terlihat. Semakin dewasa, dia tumbuh menjadi lelaki gagah dan ketampanannya semakin jelas mempesona. Ketampanan dan kegagahan itulah yang membuat seorang Narcissus akhirnya jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Betapa tidak, ketampanannya adalah magnet yang memikat dan menarik siapa saja yang melihat. Termasuk salah seorang Peri yang diam-diam mengagumi dan menyikainya. Namun tak berdaya, ungkapan hatinya tak disambut Narcissus.

Cinta ditolak kutukan bertindak. Itulah akibatnya. Echo yang patah patah hati, bersedih, murung dan hidup dalam dunia kesendirian mengundang simpati Dewa Dewi langit. Narcissus dihukum oleh Dewi Namesis sebab pengabaian dan kesombongannya terhadap Echo. “Narcissus terkutuk untuk bisa menyentuh, tanpa bisa merasakan, tanpa bisa memiliki”. Demikian tulis ustadz Salim A. Fillah  dalam bukunya Dalam Dekapan Ukhuwah.

Dalam hening pagi setiap hari,  Narcissus berkunjung kesebuah telaga. Dia berlutut di tepinya mengagumi bayang wajahnya yang terpantul dari air telaga. Dipandanginya lekat lekat. Pesona wajah dalam telaga mengalihkan dunia dan menutup kesadaran Narcissus. Dia hidup dalam dunia yang dibangunnya sendiri; dengan angan-angan dan kesenangan abadi memiliki pesona sepanjang usia yang tidak akan dibagi kepada makhluk lain.

Tanpa sadar, itu adalah pembunuh dunianya yang sebenarnya. Lelaki tampan yang dikagumi seantero penghuni hutan mendapati takdir hidup ditepi telaga; tempatnya ‘bercermin’ setiap hari. Hajat hidup tidak dipenuhinya. Tubuhnya melemah, kesadarannya makin jauh meninggalkan jasad. Narcissus jatuh dan tenggelam ditelan telaga tempatnya menganggumi diri. Dia mati karena tidak bisa meninggalkan telaga; sumber kekagumannya.

***

Meminjam tuah berhikmah ust. Salim A. Fillah, “Setiap kita memiliki kecenderungan menjadi Narcissus atau telaganya. kita mencintai diri ini, menjadikannya pusat dari segala yang kita perbuat dan semua yang ingin kita dapat”. Sosok Narcissus yang kagum akan pantulan wajahnya dari telaga atau telaga yang kagum akan pantulan permukaannya dari bening mata Narcissus. Sama. Mereka adalah kekaguman tak bertuan. Hampa.

Dalam memenuhi kecenderungan tersebut, kita mengerahkan segala daya dan menempuh berbagai cara. Dengan penuh harap, agar orang-orang kagum terhadap kita. Ketika mereka bertemu kita yang ada adalah ketakjuban seakan telah berjumpa dengan manusia tanpa celah.

Narcissus meregenerasi lahirkan Narsisme. Narsisme merupakan perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Dia meyusup dan hadir dalam kehidupan. Menyerang jiwa manusia yang tak dapat mengendalikan diri. Sehingga seseorang yang Narsis memiliki rasa percaya diri yang kuat. Dengan memandang dirinya sebagai orang yang paling hebat, tak tertandingi dan tidak menghargai atau tak perlu menghormati orang lain.

Narsisme mendorong seseorang tidak segan-segan meremehkan orang lain, memiliki kesombongan yang besar. Serta lebih mendahulukan kepentingan diri sendiri dan mengabaikan orang lain. Dia akan melakukan apapun untuk dikenal dan berupaya sekeras mungkin untuk mempertahankan eksistensi dirinya.

Contoh kecilnya bisa didapat dengan mengunjungi dunia maya. Disana beragam orang dengan gaya narsisnya mengabarkan dunia -lagi apa dan dimana mereka sekarang. Dari apa yang bertebaran, sebagian besar nampak “cantik” entah dengan polesan bedak, pengambilan angel gambar, kerennya tempat atau orang yang ditemui atau memang karena kecanggihan kamera dengan sejuta aplikasi editnya (?). Tidak sedikit dari semua itu adalah untuk eksistensi diri dengan mengabarkan kepada dunia, “ini loh aku!”

Di dunia nyata tidak kalah bersaing. Penderita Narsis memegang prinsip, “Lebih baik kalah nasi daripada kalah aksi”. Ada HP keluar baru, beli! Lahir model busana terkini, beli! terkenal tempat nogkrong baru, kudu nongol juga. Ada gaya rambut baru? Ke salon. Baju baru, celana dan rok baru. Serba ikut-ikutan model, gaya maupun kebiasaan terbaru. Menunjukkannya kepada khalayak supaya mendengar tepuk tangan. Semua itu dalam rangka menunjang diri mereka agar tetap eksis dan tampil keren serta dipuji-puji.

Kecintaan terhadap diri sendiri menjadi kusut dan hanya setipis benang. Cinta pada diri sendiri tidak lagi berbicara tentang mengisi otak dengan ilmu atau menempa diri dalam ibadah. Kecintaan itu telah memudar jauh dan hanya membekaskan tampilan luar, fisik belaka. Manusia lebih menyukai wajah tanpa minyak dan jerawat. Hidung mancung disukai. Bela-belain diet demi mendapatkan wajah tirus idaman. Kulit putih dinggap cantik. Gendut dianggap kutukan sementara tinggi semampai disebut titisan Dewi.

Akhirnya untuk standar-standar sempurna demi eksistensi diri diruang public, berbagai pengorbanan dilaksanakan. Uang kuliah atau biaya sekolah sengaja dipangkas atau malah diumpetin dari orang tua hanya untuk membeli HP. Ratusan ribu hingga jutaan uang dihamburkan untuk perawatan diri di salon. Rela menahan bahkan menyiksa diri dengan diet super ketat. Peralasan make up dilengkapi. Sabun pembersih wajah pembasmi minyak dan jerawat dalam waktu sehari dibeli walau mahal. Memoles sikap agar menawan simpati orang lain. Kita semakin hidup dalam polesan kepura-puraan. Ingin terlihat sempurna tanpa celah dan bersih tanpa noda.

Budaya memoles diri semakin ditonjolkan. Memoles wajah dengan bedak secenci dan gincu terang mentereng. Namun sadarkah kita, bahwa tidak ada manusia sempurna kecuali para Nabi. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki entah kelebihan materi, kecantikan, kepopuleran dikabari kepada semua orang. Agar orang orang terkesima dan senantiasa memandang takjub. Sementara kekurangan, kesusahan dan kesempitan  yang setiap hari menghantam kehidupan tidak dirisaukan.

Nantikan Kelanjutannya 🙂

 

Rate this article!
Antara Cinta dan Candu,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply