Anak dan Zaman 2

Berbahagialah para orang tua yang anak-anak mereka masih mengenal yang namanya teman bermain, yang berdiri di tengah lapangan dengan memegang tali layang-layang, yang sangat bahagia mengejar layang-layang putus, yang bekejar-kejaran dengan temannya di pekarangan, yang berimajinasi menjadi chef dengan mengaduk-aduk tanah dan rumput. Bersedihlah orang tua ketika melihat anaknya duduk diam dengan posisi yang sama selama berjam-jam, tangan dan mata yang tak lepas dari sebuah benda yang kita sebut dengan gadget. Jika kita melihat lagi mungkin banyak dari kita akan berpikir itu karena zaman yang sudah modern dan canggih, anak-anak juga harus mengikuti perkembangan zaman dan menjadi lebih canggih juga jangan menjadi kurang up date, gagap teknologi, jadul dan kuno. Memang kita harus memperkenalkan mereka dengan hal-hal itu semua, memperkenalkan mereka tentang teknologi canggih yang telah menjadi suatu kebutuhan sekarang ini karena memang mereka lahir di zaman yang serba canggih dan modern.
“Assalamu’alaikum Bu, apa kabar?”. Suara dari seberang menyapaku dengan sangat ramah. “Wa’alaikumsalam Alhamdulillah Bu”. Jawabku dengan tak kalah bahagia, aku masih sangat mengenal suara khas itu walaupun sudah beberapa tahun tidak berjumpa dan berbincang lagi. “Bu Mala saya mau minta tolong, bisa gak ya ngajar les ke Tama? Karena sebentar lagi Tama mau ujian kelulusan SMA”. Beliau langsung mengutarakan maksudnya. “Masyaallah, Tama sekarang sudah mau lulus SMA, gak terasa ya Bu”. Aku menanggapi dengan penuh rasa takjub, bagaimana tidak takjub rasa-rasa baru kemarin aku bersama Tama di kelas 6 menjadi wali kelasnya dan sekarang dia sudah mau selesai di bangku SMA. “Iya Bu, tapi itulah saya khawatir sekali melihatnya sekarang. Dia tidak mau belajar, sedangkan sebentar lagi dia akan ujian. Saya jadi bingung, ingat sama Ibu kira-kira Ibu mau tidak ngajar les dia?”. Saya berpikir sejenak, kemudian rasa ingin tahu saya muncul. Saya bertanya pada Ibu itu bagaimana kondisi Tama sekarang karena saya tahu betul bagaimana dia dahulu, tanpa harus menunggu lama Beliau bercerita keadaan Tama sekarang, dia tidak mau belajar, tidak mau bergaul dengan teman di sekolah dengan kata lain 3 tahun di sekolah itu temannya tidak ada, dan guru-guru di sekolahnya pun tidak mau tahu lagi dengan dia, dia dianggap aneh oleh warga sekolah itu. Aku hanya tersenyum dan ini bukan hal yang mengagetkan mengingat bagaimana dia saat bersamaku di kelas 6, tetapi ketika di SD hanya diawal sebagai anak baru dia begitu, setelah beberapa pekan dia mulai akrab dengan teman-temannya. Aku jadi penasaran dan ingin langsung bertemu dengannya. Akhirnya aku menyanggupi tawaran itu, masih ada catatan keseharian Tama yang aku buat, dan aku masih ingat ketika aku juga berkunjung ke rumahnya. Selama aku bercerita dengan Ibu nya, Tama tak keluar dari kamarnya, beberapa kali dipanggil tidak kunjung terlihat batang hidungnya, dia baru keluar ketika aku pamit pulang dengan memegang smartphone, Ini yang membuatnya tak keluar dari kamar. Apakah masih sama? Kita janji bertemu keesokan harinya. Bertemu dengannya tentu sangat senang, kita seperti teman lama yang baru bersua kembali ternyata tetap sama jika kulihat dari sikapnya. Berbincang santai sebelum kami mulai belajar, kubiarkan dia bercerita sengaja kutanyakan bagaimana sekolahnya, teman-temannya, cukup menggelitik kata-katanya “semua teman-teman bodoh semua”. Aku meminta penjelasan tentang kata-katanya itu, jawabannya cukup singkat “Ibu taulah bagaimana mereka-mereka itu”. sontak aku tertawa. Cukup menurutku apalagi ketika aku menemukan dua buah smartphone di saku celana dan di dalam tasnya. Aku candai dia “jualan pulsa ya?” Dia tertawa dan berkata “lebih baik berteman dengan teman-teman di ruang chat mereka pintar-pintar”. “Loh, bagaimana dengan Ibu? Kesinggung saya” Aku kembali mencandainya. “Ibu kan bukan mereka-mereka?”. Aku tersenyum dan lanjut dengan menjelaskan materi lagi.
Terlalu panjang ceritaku, tapi bisa dilihat bagaimana pengaruh teknologi itu. Tak ada lagi teman-teman nyata bagi Tama, semua ada di dunia maya, tak ada lagi orang yang mendukung di sekitarnya, teknologi membuat anak-anak gagap sosial. Mereka maju di bidang itu tetapi gagal dalam hubungan sosial, sampai menganggap orang disekitarnya bodoh. Sedih sekali rasanya, dan sebenarnya penyebabnya pun sama karena orang tuanya sibuk bekerja, mungkin pikir orang tuanya baik Tama diberi smartphone saja agar tidak bosan menunggu mereka pulang tapi ternyata itu malah membuatnya menjadi seperti sekarang ini, hingga Tama semakin nyaman dengan dunia maya nya.

Rate this article!
Anak dan Zaman 2,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply