Aku Milik Suamiku dan Suamiku Milik Ibunya

“Aku juga telah banyak berkorban, Is… Aku ‘meninggalkan’ orang tua dan adik-adikku demi apa? Demi berbakti pada suamiku! Tapi apa yang kudapatkan? Suamiku lebih memihak ibunya!” suara sahabatku terdengar serak di telepon. Ia berharap menemukan solusi dengan menghubungiku.

Aku bisa memahami apa yang ia rasakan. Seorang anak perempuan memang tanggung jawab orang tuanya. Tapi begitu menikah, ia akan menjadi milik suami sepenuhnya. Beda dengan lelaki. Walau sudah menikah, ia tetap harus menyantuni ibunya.

“Wah, gak adil dong?”
Tenang dulu, wahai para istri… Ketahuilah bahwa yang kamu rasakan itu adalah cemburu.
“Gak boleh kalo gue cemburu?”
Boleh… Rasa cemburu hadir tentu karena ada rasa cinta. Justru cinta akan dipertanyakan bila tidak ada rasa cemburu sama sekali. Dan cemburu adalah hal yang fitrah bagi wanita. Oleh karena itu, kita harus pandai-pandai menjaganya agar bersih dari campur tangan syaithon.

Nah, agar hubungan kita dengan ibu mertua tidak ada cemburu, ingatlah dua fakta berikut.

1. Siapakah ibu mertua?

Beliau adalah wanita yang telah banyak berkorban utk suami kita puluhan tahun.

Bagaimanapun perangai ibu mertua kita, beliau adalah wanita yang telah mengandung suami kita 9 bulan lamanya. Berat dan payah tentu telah beliau jalani. Dengan ASI-nya, anak lelakinya tumbuh sehat, kuat dan menjadi suami kita yang cerdas. Dengan kasih sayangnya, anaknya tumbuh menjadi pria dan suami yang penyayang. Dengan kesabarannya pula, ibu telah mendidik putranya hingga ia menjadi suami yang gagah dan bertanggung jawab.

2. Lalu siapakah kita?

Kita adalah wanita asing yang baru dikenalnya dengan ijab qobul. Kita datang menggantikan peran ibu dalam merawat anaknya. Lebih dari itu, kita mengisi hati suami dengan cinta hingga anak lelakinya itu mencintai kita sepenuhnya. memerhatikan kita, mencurahkan hartanya untuk kita dan lain-lain.

Dua puluhan tahun ibu menyayangi anak lelakinya. Tapi kini, anak lelakinya memandangimu penuh mesra dan mencintaimu penuh kasih, duhai Wanita asing.

Maka, siapa yang lebih berhak cemburu? Kita atau ibu mertua?

Lalu bagaimana agar hubungan kita dan ibu mertua langgeng bahagia?

1. Dukunglah suami dalam berbakti pada orangtuanya

Ingatkan suami bila sudah waktunya menjenguk ibu. Sarankan pada suami untuk memberikan ibu hadiah. Posisikan kita sebagai anak kandungnya dan tak perlu bersaing dengannya. Ingatlah bahwa orang tua suami adalah orang tuamu juga. Jika kamu bersikap demikian, suami yg baik pasti juga akan mendukungmu berbakti pada orangtuamu.

2. Jangan minta suami untuk memilih, “Aku atau ibumu?”

Oh no, jangan! Seburuk apapun ibu mertua, kamu lebih buruk bila meminta suami untuk berpisah dengan beliau.

Ketahuilah… Sesungguhnya yang dilakukan suamimu dalam mencintai ibunya adalah hal paling romantis yang dilakukan seorang anak.

Bayangkan jika anak lelakimu kelak meniru ayahnya. Walau sudah beristri, anak lelakimu masih memberikamu bunga, memberikan perhatian dan cintanya padamu. Betapa tersanjungnya dirimu, bukan?

Bayangkan pula sebaliknya. Bagaimana jika menantu perempuanmu membujuk anak lelakimu utk meninggalkanmu. Bagaikan jatuh dari lantai delapan. Rasanya pasti sangat menyakitkan.

Bagi para suami, pandai-pandailah menjaga hati dua wanitamu. Jangan sampai kecintaanmu pada salah satunya terlalu menonjol di mata yang lainnya. Ibumu berhak mendapat cintamu. Tapi istrimu… Ia telah ‘meninggalkan’ keluarganya demi berbakti dan taat padamu.

“Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228)

Adh-Dhahhak rahimahullhu berkata menafsirkan ayat di atas, “Apabila para istri menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menaati suami-suami mereka, maka wajib bagi suami untuk membaguskan pergaulannya dengan istrinya, menahan dari menyakiti istrinya, dan memberikan nafkah sesuai dengan kelapangannya.” (Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an/Tafsir Ath-Thabari, 2/466)

Tags: