Aku Ambil Pilihan Lain

Bu, kenapa orang-orang selalu mengajukan dua pilihan kepadaku, melanjutkan S-2 atau menikah? Entah karena memang mereka tulus perduli kepadaku atau ada motif lain. Terkadang terasa ada nada dan sikap lain yang membuatku tidak nyaman ketika mereka menyinggung masalah itu. Ah sudahlah, aku tidak ingin berburuk sangka.
Memang untuk ukuran wanita, usiaku termasuk rawan mengalami kehamilan. Namun apakah harus kupaksakan diri menikah sementara tak kutemui alasan kuat bahwa pria yang akan menikahiku adalah calon ayah yang baik. Menikah itu hubungan persahabatan, bukan hubungan antara majikan dengan karyawannya atau bahkan antara tuan dengan budaknya. Ikatan yang kuinginkan adalah persahabatan dalam menjalankan ketaatan kepadaNya dan menjauhkan diri dari laranganNya sehingga kami bisa berjumpa dengan Allah dengan cara yang baik dan terhormat. Rasulpun bisa turut berbangga karena keturunan yang dihasilkan termasuk generasi rabbani.
Upaya mengembangkan kemampuan diri sesuai kriteria yang ditentukan pemangku kebijakan pada instasi tempatku bekerja membuat kuliah S-2 sebagai alternatif solusi terbaik. Sayangnya jurusan yang dibutuhkan ternyata hanya ada di dua perguruan tinggi dan keduanya sama-sama di luar kota dengan jarak tempuh lebih dari 100km dari rumah. Berat rasanya jika aku membiarkanmu tinggal di rumah sendiri. Ya, aku yakin pasti ibu mau ikut menemani jika memang keadaan mengharuskan tinggal di luar kota. Namun bagaimana dengan kesehatanmu. Untuk perawatan dan berobat ibu cenderung bergantung dengan dr Ani. Tidak adanya kesempatan mendapatkan beasiswa berarti pengeluaran akan semakin besar. Lalu bagaimana nasib anak-anak yang selama ini biaya pendidikannya ada di bawah tanggunganku.
Bu, apakah salah jika aku punya pilihan sendiri yang tidak termasuk dua pilihan yang diberikan? Ibu ingat tidak dengan kisah Uwais al-Qarni? Itu loh, tokoh terkenal dikalangan penghuni langit meski tidak dikenal penghuni bumi karena sikap bakti kepada ibunya. Kecintaannya kepada rasulullah Muhammad SAW sangat tinggi sekalipun belum pernah berjumpa dengannya. Doa dan istighfarnya diburu Khalifah Umar bin Khattab dan Imam Ali. Kehidupan dan kematiannya membawa banyak keistimewaan.
Zaman telah berkembang Bu. Meski di rumah, kegiatan usaha tetap bisa dilakukan sebagai ikhtiar meraih rezeki halal. Banyak alternatif kegiatan usaha yang bisa diambil dan yang terpenting semakin banyak waktu yang bisa kita habiskan bersama. Walau bagaimanapun kehidupan asal perempuan adalah lingkungan rumah. Coba ibu bandingkan dengan jam bekerja di luar. Berangkat pukul 06.00 dan tiba di rumah bisa lebih dari pukul 05.00 karena waktu yang harus diperhitungkan termasuk masalah kemacetan lalu lintas. Karena kelelahan seringkali aku tertidur saat Ibu sedang menceritakan tentang “si Cilik”.
Izinkan aku mengutip ayat suci Al Qur”an, surat Al Kahfi ayat 46:
“ Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi TuhanMu serta lebih baik untuk menjadi harapan”.
Bu, aku memilih amal kebajikan yang terus menerus itu melalui kebersamaanku bersamamu dan melalui santunanku kepada anak-anak yatim atau dari keluarga kurang mampu dengan hasil wirausaha yang dijalankan di rumah. Kedekatan anak-anak yatim dengan Rasulullah itu seperti ibu jari dengan telunjuk.
Berpulang kembali kepada Ibu. Tidak akan kujalankan pilihan tanpa restumu. Restumu adalah pintu untuk meraih ridho Allah. Bantu aku untuk menetapi jalan yang dipilih. Semoga kebersamaan kita berlanjut hingga di surgaNya. Aamiiin.

Rate this article!
Aku Ambil Pilihan Lain,5 / 5 ( 1votes )
Tags: