AKAD DALAM ASURANSI SYARIAH (PART 3)

Akad adalah perjanjian tertulis yang memuat kesepakatan tertentu beserta hak dan kewajiban para pihak sesuai prinsip syari’ah.                                                                                                                                                                          Dalam sebuah akad sekurang-kurangnya menyebutkan hak dan kewajiban peserta dan perusahaan, cara dan waktu pembayaran premi, jenis akad tijarah dan tabarru, dan syarat-syarat yang disepakati sesuai  dengan jenis asuransi yang di akad.                                                                                                                                                                                                                 Berdasarkan hukum Islam untuk membuat polis dalam asuransi syariah harus berdasarkan prinsip takafuli (Tolong-menolong) Dengan berlandaskan pada prinsip takafuli, asuransi syariah terutama untuk asuransi jiwa menerapkan dua bentuk akad di awal penerimaan premi, yakni akad tabungan investasi dan akad kontribusi atau tabarru.                                                                                                                                      Akad tabungan investasi didasarkan pada prinsip al-mudharabah sementara kontribusi berdasarkan prinsip hibah. Hibah disini dilakukan secara berjamaah dan mengandung efek saling menanggung. Besarnya hibah biasanya rata-rata sekitar 5% dari total premi, selebihnya (95%) akan terbagi ke dalam premi ujrah dan tabungan investasi peserta. Perusahaan asuransi syariah akan menempatkan dana tabungan dan kontribusi tersebut pada proyek-proyek investasi yang halal dan menguntungkan.

Bentuk akad dalam asuransi syariah berdasarkan tujuannya terbagi 2 yaitu akad tabarru dan akad tijarah. Pada pembahasan sebelumnya disebutkan bahwa akad tijarah merupakan bentuk akad yang tujuan pelaksanaannya bersifat komersial. Penerapan akad tijarah dalam asuransi syariah lebih mengarah kepada prinsip mudharabah. Perusahaan asuransi bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana, dan peserta bertindak sebagai shahibul mal atau pemegang polis.                                                                                                                                                       Akad tijarah dapat di rubah menjadi jenis akad tabarru apabila terjadi pihak yang haknya tertahan melepaskan haknya secara sukarela sehingga menggugurkan kewajiban pihak yang belum menunaikan kewajibannya. untuk kejadian seperti ini tentunya diperlukan pernyataan secara tertulis dari peserta sebagai pembuktian dan kelengkapan administrasi bagi perusahaan asuransi untuk mengalihkan dana peserta tersebut menjadi dana tabarru. Akan tetapi jenis akad tabarru tidak dapat di ubah menjadi akad tijarah.                                                                                                                                                                                                                                             Akad Tabarru pada asuransi syariah merupakan semua bentuk akad yang dilakukan antara sesama peserta pemegang polis dan juga dengan perusahaan. Penerapan akad tabarru pada asuransi syariah lebih mengarah pada bentuk hibah dengan tujuan kebajikan dan tolong­ menolong antara sesama peserta, bukan untuk tujuan komersial.                                                                                                                                                                                      Dalam akad tabarru (Hibah), peserta memberikan sebagian dana premi sebagai hibah yang akan dipergunakan untuk menolong peserta lain yang tertimpa musibah. Perusahaan asuransi bertindak sebagai pengelola dana hibah, uang premi yang dibayarkan oleh peserta terdiri dari dana tabarru (Hibah), investasi, dan ujrah (fee) untuk biaya administrasi dan pendapatan pengelola (Perusahaan asuransi).

Asuransi syariah harus mematuhi prinsip syariah Islam. Azas utama asuransi syariah adalah kerja sama, persaudaraan, dan kesetiakawanan. Pemilihan akad untuk kontrak asuransi antara peserta asuransi syariah dan perusahaan asuransi syariah sangat bergantung pada kebutuhan setiap individu dan strategi masing-masing pihak.

 

Rate this article!