AKAD DALAM ASURANSI SYARIAH (PART 2)

Akad merupakan perjanjian tertulis yang memuat kesepakatan tertentu beserta semua hak dan kewajiban para pihak sesuai prinsip syari’ah.

Penerapan dan kejelasan jenis akad pada asuransi syariah harus dipahami dan dimengerti oleh peserta dan perusahaan asuransi. Tujuannya adalah agar dapat diketahui dan ditentukan sah atau tidaknya hukum muamalah secara syar’i. Jenis akad yang dapat digunakan dalam asuransi syariah terdiri dari akad tabaduli dan akad takafuli.                                                                                                                          Kedudukan shigat al-‘aqad dalam asuransi syariah sangat penting karena merupakan rukun akad. Dengan pernyataan shigat al-‘aqad, melalui ijab dan qabul dapat kita ketahui maksud dan tujuan masing-masing pihak yang melakukan perjanjian atau perikatan.                                                                                                                                                                                 Adapun beberapa syarat yang perlu diketahui dalam pelaksanaan perjanjian atau perikatan adalah sebagai berikut :

  1. Tujuan dibentuknya perjanjian atau perikatan harus jelas.
  2. Terdapat kesesuaian antara ijab dan qabul.
  3. Pernyataan ijab dan qabul berdasarkan pada suatu keinginan dan tujuan masing-masing pihak yang terkait secara pasti, tidak ada unsur keraguan didalamnya.

Menurut pendapat jumhur ulama fikih rukun akad terbagi 3 yaitu :

  1. Shigat al-‘aqd (Suatu bentuk pernyataan untuk mengikatkan diri)
  2. Al-muta’aqidain (Merupakan pihak-pihak yang mengadakan akad)
  3. Al-ma’qud alaih (Objek akad)

Seluruh perjanjian ataupun perikatan yang dilakukan oleh peserta asuransi dan perusahaan asuransi harus sesuai dan berlandaskan sistem syariah. Akad dianggap sah apabila sejalan dengan syariah.                                                                                                                                            Akad yang sesuai dengan syariah adalah akad yang tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), serta barang haram dan maksiat. (Fatwa DSN No.21/DSN-MUI/X/2001)

Selain jenis akad berdasarkan tujuannya, yaitu tijarah dan tabarru, apabila dilihat dari bentuk transaksinya, akad terbagi menjadi beberapa bagian, yang semuanya diakui dan dibenarkan secara syar’i untuk digunakan dalam asuransi syariah, diantaranya adalah akad assalam (Meminjamkan barang), akad syirkah (Kerjasama), akad muzara’ah (Pengelolaan tanah dan bagi hasil), akad ijarah (Sewa), akad al-musyarakah (Partnership), akad al-wakalah (Pengangkatan wakil atau agen), akad al-wadiah (Titipan), akad wakalah bil ujrah (Memberi kuasa kepada perusahaan asuransi dengan pemberian imbalan berupa fee atau ujrah), dan akad mudharabah (Bagi hasil). Akad yang terbagi berdasarkan bentuk transaksinya merupakan bagian dari akad tijarah. Kecuali akad al-musahamah (Kontribusi) ini merupakan bagian dari akad tabarru.

Pembahasan terkait masing-masing akad berdasarkan bentuk transaksinya akan dibahas tersendiri pada pembahasan berikutnya.

Pada saat pertama kali penerimaan premi, asuransi jiwa syariah ini menerapkan dua bentuk akad, yaitu berupa akad tabungan investasi dan akad kontribusi. Akad tabungan investasi berdasarkan pada prinsip mudharabah, dan akad kontribusi menerapkan prinsip hibah. Hibah ini dilakukan secara berjamaah yang sifatnya saling menanggung sesama peserta.

Rate this article!

Leave a Reply