AKAD DALAM ASURANSI SYARIAH (PART 1)

Asuransi syariah memiliki prinsip, yaitu sebagai sesama peserta diharapkan saling membantu dan bertanggung jawab dalam artian saling peduli dan saling membantu apabila ada peserta lainnya yang terkena musibah (Baca: Resiko). Bentuk perhatian dan pertanggung jawaban dari sesama peserta yaitu dengan menyerahkan sebagian uang premi yang telah disetor untuk disisihkan buat cadangan bagi peserta lainnya jika salah satu dari peserta mengalami resiko. Dana tersebut diserahkan secara ikhlas dan teratur sesuai perjanjian dan pengelolaannya di percayakan kepada perusahaan.                                                                                                                                                        Dalam setiap kegiatan bisnis yang dilakukan, pihak mudharib harus taat pada peraturan negara dan juga mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh dewan pengawas syariah. Hal ini bertujuan agar hasil keuntungan atau nisbah bersih dari unsur pelanggaran secara syar’i.                                                                                                                                                        Kata akad berasal dari lafal arab yaitu al’aqd yang berarti perikatan atau perjanjian. Menurut ilmu fikih kata akad dapat diartikan sebagai pertalian ijab dan qabul. Pihak yang melakukan ijab disebut mujib, dan pihak kedua yang menyatakan persetujuannya atau menerima perikatan disebut qabil. Ijab yaitu suatu bentuk pernyataan melakukan ikatan, sedangkan qabul berarti pernyataan menerima ikatan sesuai syariat dan saling berpengaruh pada sebuah ikatan. Berpengaruh pada sebuah perikatan berarti terjadi pemindahan kepemilikan dari satu pihak kepada pihak lainnya.                                                                                                                                                        Ungkapan atau suatu ucapan (Sighat) adalah pernyataan penawaran dan penerimaan ( Ijab & Qabul ) yang harus diucapkan kedua belah pihak untuk menunjukkan kemauan mereka dalam menyempurnakan kontrak. Adapun persyaratannya adalah sebagai berikut :

  1. Tujuan kontrak harus tergambarkan dengan jelas.
  2. Jika ada persyaratan yang memberatkan salah satu pihak, atau salah satu pihak menolak syarat-syarat yang diajukan, maka sighat tidak sah (Batal).
  3. Kontrak boleh dimulai secara lisan dan dilakukan secara tertulis yang ditandatangani, boleh juga dilakukan secara korespondensi.

 

Prinsip akad yang dilakukan antara peserta asuransi dan perusahaan berdasarkan tujuannya terdiri dari 2 akad, yaitu : Akad tijarah dan akad tabarru.                                                                                                                                                                                                         Akad tijarah merupakan bentuk akad yang tujuan pelaksanaannya bersifat komersial. Akad tijarah dapat berupa mudharabah, wakalah, syirkah, wadiah, dan lain-lain. Penerapan akad tijarah dalam asuransi syariah lebih mengarah kepada prinsip mudharabah.                                                                                                                                                       Dalam akad tijarah perusahaan asuransi bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana, dan peserta bertindak sebagai shahibul mal atau pemegang polis.                                                                                                                                                                                                                                   Akad tabarru merupakan bentuk akad yang tujuan pelaksanaannya bersifat kebaikan dan tolong menolong. Penerapan akad tabarru dalam asuransi syariah lebih dikenal dengan hibah. Dalam akad tabarru, posisi peserta sebagai pemberi hibah dan penerima hibah.                                                                                                                                                       Peserta bertindak sebagai pemberi hibah apabila peserta menyerahkan sebagian dari dana premi yang diserahkan kepada perusahaan untuk disisihkan buat peserta lainnya yang mengalami musibah/resiko. Peserta sebagai penerima hibah apabila mengalami musibah/resiko menerima dana tabarru yang telah dikumpulkan dari peserta lainnya.                                                                                                                                                                                                 Perusahaan asuransi sebagai penengah dan pengelola dari dana hibah tersebut.

 

 

Rate this article!