AJA,TERSERAH

AJA TERSERAH

“Mau makan apa, say…?” Andi bertanya dengan manis pada Lia yang duduk di sebelahnya.

“Terserah Aa aja” Lia menjawab dengan manja, sambil memandang Andi dengan senyum. Andi terus memerhatikan jalanan, dan sibuk dengan rem dan kopling dalam kemacetan di jalan yang dilalui, sehingga tidak sempat menangkap senyum itu. “Lia suka makan apa aja”. Lia menambahkan. Dalam pikirannya, syarat menjadi wanita tulen agar dikejar laki laki sejati adalah berserah total, termasuk soal makanan.

Andi sesekali melihat ke kanan jalan. “Hhmm…makanan Sunda.” Dia cepat mengembalikan perhatiannya kepada jalanan. Mobil terus maju, sekarang dengan lebih lancar. Sesekali dia memanjangkan lehernya ke kiri jalan. Daerah itu adalah daerah belanja. Banyak butik, coffe shop, juga restoran. Tetapi kata terserah dari Lia tidak memudahkan dirinya dalam memilihnya.
“Kalau Chinese Food ini gimana?” Andi mulai serius, terlihat dari suaranya yang lebih tegas.

“Terserah aja” Lia sekarang menumpangkan tangannya ke bahu suaminya. Memijitnya ringan tetapi suasana tak mendukung sehingga Andi tidak merasakan pijatan sayang itu.

“Ya sudah kalau begitu kita ke restoran Padang ini. Pas parkirnya masih tersisa”. Andi yang seleranya Padang tulen memasukkan mobil ke halaman restoran terkenal itu dengan bersemangat dan langsung mendapat parkir pas di depan pintu utama.

Andi langsung turun tanpa melihat ke wajah Lia. Sementara Lia membuka pintu dengan sedikit bingung. Hari ini Minggu. Kemarin Sabtu, Andi juga mengajaknya ke restoran Padang di tempat lain. Dua hari berturut turut dengan masakan Padang, ketika banyak pilihan, dan dalam suasana weekend pula yang berarti ada waktu untuk memilih.

Andi menunggu di depan pintu restoran, sementara Lia melangkah dengan gontai. Andi demikian lapar sehingga tak mampu menangkap bahasa tubuh Lia. Dalam hitungan detik setelah mereka duduk, meja di hadapan mereka dipenuhi makanan.

“Hayo, kita makan” Andi mengajak dengan kelaparan yang ceria.

“Aa, kemarin kita makan makanan Padang, sekarang juga.” kata Lia, lagi lagi dengan manja.

Andi menghentikan suapannya yang baru merupakan suapan pertama. Komentar Lia tak dipungkiri, mengusik rasa laparnya.

“Lho, katamu terserah aja”.

Sejujurnya Andi berusaha cuek, menganggap ini tak masalah. Walau sebenarmya soal “terserah aja”-nya Lia beberapa kali membuatnya kesal.

“Aja terserah to Neng” Andi melanjutkan suapannya dengan lahap.

Bandung, 29 11 2015
Lisa Tinaria

Rate this article!
AJA,TERSERAH,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: