AIR PLUS TAHI KUCING

AIR PLUS TAHI KUCING

 

Biarlah aku memberi judul yang provokatif untuk tulisan ini. Yakinlah Saudara-Saudara, tidak akan ada yang tersinggung. Tidak ada penistaan apa pun. Tidak juga SARA (siapa yang mencetuskan istilah ini pertama kali ?). Ini pengalaman nyata yang menohok diriku sendiri. Begini kejadiannya.

 

Aku tinggal di sebuah  rumah tua dengan segala dinamikanya (istilah positive thinking untuk suatu tantangan; tantangan juga istilah `pembaikan` untuk sesuatu; aku tak hendak menuliskan kata negatif dari `dinamika` dan `tantangan`).  Salah satu tantangan di rumahku adalah sesuatu di plafon  kamar mandi.

 

Plafon itu terbuat dari asbes. Aku yakin sejak rumah itu dibangun 27 tahun lalu, asbes itu belum diganti. Warnanya “putih tua” kata temanku. Di permukaannya tampak seperti iler di bantal, menyebar merata. Nah ini yang paling utama, satu lembar seukuran kertas A3, akan copot. Dari sela yang menguak kadang jatuh serpihan semen dan tentu saja debu (yang sudah bertengger di sana selama 27 tahun).

 

Aku memaklumi saja ketika di di dalam bak air di kamar mandi tersebut ada potongan semen kecil kecil. Bak mandi itu letaknya persis di bawah plafon yang menganga itu. Warna potongan semen itu abu abu kehitaman. Karena faktor “em” (baca : malas), plus kelelahan, aku membiarkan serpihan itu di dalam bak selama, mungkin seminggu.

 

Sampailah akhirnya hari jumat malam weekend ini, aku mencuci pakaian cukup banyak. Aha…air bak tinggal separuh, waktu yang tepat untuk menguras bak air.

 

Aku memunguti butiran semen sebesar ujung jari di dasar bak. Sisanya masih ada, berupa butiran pasir. O, masih ada satu yang paling besar, sebesar setengah jari jempolku. Aku pegang benda itu. Ha?! Koq tidak keras. Malah lembut?! Aku ambil benda itu dengan gayung. Kubuang air di gayung sehingga tersisalah dia di dasar gayung. Aku amati dengan menggoyangkan gayung. Benda itu malah hancur dengan warna di dalamnya bukan abu abu tetapi kuning. Penasaran, kudekatkan mulut gayung ke hidung. Wuueeek…!!! Tahi kucing !!! Aku segera membuang isi gayung ke toilet. Gayung kemudian kubilas dengan karbol.

 

Setelah agak tenang karena menahan gejolak lambungku, aku mulai berpikir. Sudah berapa lama “dia” di dalam bak itu? Aku memakai air di bak untuk mencuci pakaian, mandi, berwudhu, “urusan ke belakang”, dan … menggosok gigi.

 

“Wuuueeeekk….” perutku kembali bergolak. Aku mengernyitkan kening.

 

Inilah hasil kelalaianku. Serpihan semen itu seingatku sudah seminggu lebih ada di situ. Minggu lalu aku tidak menguras bak air. Aku melanggar SOP yang kubuat sendiri agar menguras bak air seminggu sekali. Benda mirip bongkahan semen itu kemungkinan juga sudah di dalam bak air, cukup lama.

 

Sebuah pertanda aneh memang kurasakan seminggu terakhir. Ada bau busuk yang sulit kudefinisikan yang berasal entah dari mana. Bau itu tetap ada walaupun aku sudah membersihkan kamar mandi dan toilet, dan memberi pengharum pula. Barulah aku sadar bahwa bau itu berasal dari plafon yang bercelah itu.

 

Bandung, 26 03 2017

Lisa Tinaria

Rate this article!
AIR PLUS TAHI KUCING,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply