Ada Riba dalam Gadai Sawahmu

Beberapa kali saya ditawari untuk gadai sawah. Ada petani pemilik sawah yang memerlukan uang, kemudian dia menggadaikan sawahnya. Nanti saat panen saya akan mendapat bagi hasil dari sawah yang digadaikan pada saya.

Hukum tentang gadai sawah ini saya juga baru tahu. Kupikir praktik gadai sawah ini adalah praktik yang lumrah dilakukan para petani, ternyata praktik ini rawan riba. Kenapa rawan riba? Ini sesuai dengan  satu kaidah baku dalam hutang piutang.“Semua bentuk utang yang menghasilkan keuntungan maka itu adalah riba”.

Sebagaimana riwayat dari Fudhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu :

“Setiap piutang yang memberikan keuntungan maka (keuntungan) itu adalah riba.”

“Keuntungan” yang dimaksud dalam riwayat di atas mencakup semua bentuk keuntungan

Bahkan jika keuntungan itu berupa fasilitas, pelayanan, diskon, dan sejenisnya, itu juga tidak boleh diambil. Sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu,

Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya!” (H.R. Ibnu Majah)

Dalam riwayat yang lain, dari Abdullah bin Sallam, bahwa beliau mengatakan,

Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak, maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (H.R. Bukhari)

Masya Allah, Islam sudah mengatur segala aspek kehidupan dengan amat cermat. Termasuk di dalamnya dalam fiqh muamalat.

Dala kasus gadai sawah bisa dirinci sebagai berikut:

  1. Jika uang bagi-hasil, yang diserahkan kepada pemilik piutang, itu sekaligus menjadi pelunasan utang si peminjam (dalam hal ini juga sebagai penggadai sawahnya) tanpa ada tambahan yang lain, maka sistem pembayaran semacam ini 100% diperbolehkan. Dalam transaksi ini, transaksi yang terjadi murni utang-piutang, dengan pelunasan tanpa ada tambahan.
  2. Jika uang bagi-hasil yang diberikan bukan termasuk pelunasan utang, sementara sawah akan diambil oleh pemberi piutang jika si pengutang tidak mampu melunasi utangnya, dan si pengutang wajib menyetorkan bagi hasil tersebut plus uang pelunasan utang, maka bagi-hasil itu, pada hakikatnya, adalah riba, karena ada penambahan dari uang yang dipinjamkan. Ini adalah tindakan kezaliman.

Termasuk didalamnya gadai mobil. Kita ngga boleh memakai mobil yang digadaikan ke kita. Apalagi jika mobil yang digadaikan ini kita rentalin,  dan kita dapat penghasilan dari rental itu plus kita sendiri bisa memakai mobil itu dengan gratis. Eta mah riba bangeeeet. Ndak boleh, ndak boleh, ndak boleh.

Tuuuh, kan ilmu baru. Saya pikir selama ini gadai itu oke oke saja. Ternyata ndak boleh mengambil keuntungan dari barang  yang digadaikan  pada kita. Karena sejatinya barang gadai itu sekedar jaminan yang dititipkan, bukan milik kita.

Semoga Allah menyelamatkan kaum muslimin dari bencana yang buruk ini. Allahu a’lam. (Diuraikan oleh Ustadz Ammi Nur Baits, Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

Rate this article!
author

Author: 

Leave a Reply