Ada Apa Dengan Dia

Saya pernah menulis sebelumnya bahwa anak itu hanya cukup butuh perhatian dan pemahaman kita sebagai orang tua dan guru di sekolah. Cukup itu saja, selebihnya adalah pelengkap. Terkadang kita lupa dengan kedua hal itu, menginginkan si anak menjadi baik dan sempurna tetapi dengan cara yang tidak disukai mereka. Kebanyakan dari kita sering sekali memaksakan anak itu harus sesuai dengan apa keinginan kita. Untuk hal seperti ini, jangan kaget jika anak akan protes dengan berbagai macam cara.

Dari cerita seorang teman guru bahwa seorang murid kesayangannya (semua anak adalah kesayangan bagi kami di sekolah) sikapnya berubah, dari yang dulu ceria dan riang sekarang lebih pendiam, tempo hari dapat kabar dari orang tuanya di rumah dia malah sebaliknya, suka marah-marah, gak mau nolongin Ummi nya, dan pernah mengambil uang tanpa sepengatuhaan Ummi. Ternyata, anak ini di rumah dan di sekolah sikapnya bertolak belakang. Ada apa dengan dia?

Ketika bercerita dengan orang tua sebenarnya bagaimana rutinaitas anak di rumah , meminta orang tua terbuka juga sangat penting, karena kita bisa tahu apakah yang kita lakukan di sekolah di sekolah untuk anak itu sama dengan apa yang dilakukan di rumah. Orang tua juga harus tahu apa capaian di sekolah untuk si anak, inilah pentingnya komunikasi anatara orang tua dan guru. Nanti akan ketahuan apakah sinkron aktifitas di sekolah dan aktifitas di rumah, dan apa yang membuat si anak berprilaku seperti itu.

Setelah bercerita banyak, akhirnya guru mendapat data baru tetapi tidak serta merta kita sebagai guru langsung memberikan solusi, biasanya kami akan meminta masukan dari teman guru yang lainnya. Ternyata, orang tua mempunyai capaian yang lumayan tinggi untuk anak seusia dia, dan ada ‘statement’ serba tidak boleh. Ternyata titik permasalahannya ada pada orang tua si anak, yang menginginkan si anak menjadi sangat baik dengan cara nya sendiri. Over protectif dengan ‘statement’ itu tadi serba tidak boleh.

Anak merasa tak nyaman di rumah sehingga dia melakukan protes dengan beberapa prilaku tadi, di sekolah guru sebisa mungkin membuatnya nyaman tapi bukan dengan mengikuti apa yang dia mau tapi membuatnya merasa diperhatikan, dihargai, berikan pemahaman pada anak bahwa orang tua di rumah ingin dia jadi anak yang hebat begitu juga dengan guru di sekolah. Di samping itu, guru juga memberikan masukan kepada orang tua untuk membuat anak merasa nyaman lagi, turunkan sedikit capaian yang lumayan tinggi tadi, sinkronkan dengan capaian guru di sekolah.

Sebagai contoh, di sekolah biasanya anak-anak punya tugas piket setiap hari, misalnya untuk hari ini si anak piket halaman depan, memungut sampah atau sekadar menyapu daun-daun. Ini juga bisa di terapkan di rumah, menyapu pekarangan depan tentu dengan di bantu. Kesemua kegiatan di sekolah juga di bantu oleh guru. Anak-anak biasanya lebih semangat jika bersama-sama, baik di rumah atau pun di sekolah. Ada lagi, kita punya rutinitas membaca Al Qur’an. Ini juga bisa di lakukan di rumah, biasanya guru akan bertanya “di rumah baca Al Qur’an nya biasanya kapan kakak?”

Hanya butuh perhatian dan pemahaman dan bagaimana sikap kita dalam menunujukan perhatian dan pemahamannya, dengan cara kita atau dengan cara dia? Saya biasanya menggunakan kedua-duanya, ada yang memang harus menggunakan cara ‘Aku’ untuk menunjukan ketegasan, di lain hal menggunakan cara ‘ayo kita bicarakan’ (cara dia, maksudnya diskusi). Dan orang tua di rumah juga melakukan hal yang sama agar terjalin kerjasama yang baik antara orang tua dan guru, sinkronisasi aktivitas di rumah dan di sekolah.

Rate this article!
Ada Apa Dengan Dia,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: