5 Rahasia Sukses Belajar Sabar Telah Terbongkar

5 Rahasia Sukses Belajar Sabar Telah Terbongkar

(Belajar dari puasa setengah hari putriku Nadiyah)

 

Oleh: Abdullah Makhrus

 

Aisyah Nadiyah Azahra adalah putri keduaku yang sekarang masih duduk dibangku SD kelas 2, aku biasa memanggilnya dengan panggilan Nadiyah. Alhamdulillah dia menjadi inspirasi menulisku di hari kedua Ramadhan ini. Kemarin memang menjadi hari pertama buat Nadiyah untuk belajar berpuasa. Maklumlah… biasanya pagi-pagi dia sudah sarapan. Kemarin ia harus super pagi mengawali waktu makannya dan tentu ini akan menjadi hari pertamanya untuk belajar berpuasa.

 

Ba’da subuh Nadiyah sudah bersiap tetap stanby di mushollah, padahal rencanaku akan aku ajak dia jalan-jalan pagi biar ga tidur bada subuh. Lha… dari sini sudah terlihat  ternyata lebih alim anaknya karena ia malah memilih tadarus daripada jalan-jalan. Akhirnya akupun memutuskan untuk tadarus pagi juga bersama istriku tercinta(edisi tak mau kalah sama anaknyaJ).

 

Sepulang tadarus, Nadiyah sudah sibuk dengan aktivitas berikutnya. Ya, ia melanjutkan berkemah dengan boneka dan kawan-kawannya di teras rumah. Sesekali ia mondar-mandir mengayuh sepedanya jika sudah bosan bermain di dalam tenda. Nah, pas kira-kira pukul 09.30 tragedi pun dimulai. Eng..ing..eng.. Berikut ini kutipan dialog antara aku dan nadiyah.

 

Nadiyah : ”Bi, aku haus. Aku minum ya?”

Abi : ”Lho kamu kan puasa, sabar dulu. Ntar nunggu adzan dhuhur baru boleh minum”

Nadiyah : ”Halah bi, masih lama…”

Abi : ”Lha iya, kan puasa. Ngga’ boleh minum sekarang. Ntar ngga dapat pahala puasa yang besar lho. Yuk main catur dulu sama abi”

Nadiyah : ”Ngga’ mau bi. Ngga enak ”

Abi : ”Ya udah, tunggu sebentar lagi kalau begitu”

 

(15 menit kemudian)

Nadiyah: ”Bi, sudah jam berapa?”

Abi : ”Jam 10.00, masih dua jam lagi”

Nadiyah : ”Halah bi, kok lama sih bi…”

Abi : ”Sabar… kan pahalanya banyak, jadi harus sabar. Nih lihat film upin-ipin di laptop abi”

(sambil berbagi layar, nadiyah menonton film Upin&Ipin di separuh layar, aku melanjutkan ketikanku di separuh layar sisanya)

 

(Beberapa menit kemudian)

Nadiyah:”Bi, sudah jam berapa bi?”

Abi : ”Halah…bentar lagi. Paling 1 jam lagi. Yuk sana mainan sama temanmu”

(Beberapa menit kemudian)

Nadiyah : “Bi sudah jam berapa? Aku haus. Aku mau minum sekarang, pokoknya sekarang!!! “

Abi : “Sabar… ini tinggal 50 menit”

Nadiyah : “Lho kok tambah lama bi, tadi katanya tinggal 1 jam sekarang kok tambah lama?, 50 menit lagi”

Abi : (waduh, aku lupa klo nadiyah belum tau tentang konversi jam ke menit. Hehe…) “Begini Nad, 50 menit itu lebih cepat daripada 1 jam. Bentar lagi juga adzan. Paling 15 menit lagi”

(5 menit kemudian. Dung..dung..dung.. Allahu Akbar… Allahu Akbar.. adzan dhuhurpun berkumandang)

Nadiyah : “Lha itu bi, sudah adzan. Ga sampe 15 menit gitu!”

Abi : “Lha iya kan enak lebih cepat, ayo segera minum sana. Hehe..”

 

Nah.. itulah cuplikan dialogku dengan Nadiyah, apa yang bisa kita ambil pelajaran dari dialog ini? Sesungguhnya dalam dialog initerdapat lima rahasia sukses belajar sabar, yuk kita bongkar.

 

Pertama, belajar sabar itu perlu latihan sejak kecil. Latihan sabar itu susah, sehingga hadiahnya setimpal yaitu surga yg indah. Kalau gampang, paling-paling hadiahnya kalender atau payung J. Sejak kecil kita mesti melatih kesabaran pada anak kita, bukan ketika dewasa kita baru belajar sabar. Telat mas bro. hehe.. J. Jika kita sudah terlatih sabar sejak kecil insyaAllah kita akan terbiasa ketika menghadapi masalah di waktu dewasa. Sama seperti belajar sholat, jika sejak kecil dilatih maka ketika dewasa dan kita merasa belum melaksanakan sholat rasanya ngga’ nyaman alias galau.

 

Kedua, belajar sabar itu dengan cara menghitung nikmat Allah yang jauh lebih besar dari masalah kita. Jadi jika mau berhitung nikmat Allah yang begitu banyak, kita tidak akan sempat mengeluh karena cobaan kita yang sangat jauh lebih sedikit.

Coba perhatikan pesan Allah, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl:18).

 

 

Perhatikan kisah Nabi Ayub, ketika diberikan cobaan oleh Allah dengan diambilnya harta, anak, hingga istrinya pun iba kepada Nabi Ayub. Berikut kutipan kisahnya:

… seraya menarik nafas panjang, datanglah istri Nabi Ayyub mendekati suaminya yang sedang menderita kesakitan dan berbisik-bisik kepadanya :

“wahai sayangku, sampai kapankah engkau tersika oleh Tuhanmu ini? Di manakah kekayaanmu, putera-puteramu, sahabat-sahabatmu di kawan-kawan terdekatmu? Oh, alangkah syahdunya masa lampu kami, usia muda, badan sehat, kebahagiaan dan kesejahteraan hidup tersedia, dikelilingi oleh keluarga dan terulang kembali masa yang manis itu? mohonlah wahai Ayyub dari Tuhanmu, agar kami dibebaskan dari segala penderitaan dan musibah yang berpanjangan ini”

 

 Berkatalah Nabi Ayyub as menjawab keluhan istrinya itu

“wahai isteriku yang kusayangi, engkau menangisi kebahagiaan dan kesejahteraan masa lalu, menangisi anak-anak kita yang telah meninggal diambil oleh Allah dan engkau minta aku memohon kepada Allah agar kita dibebaskan dari kesengsaraan dan penderitaaan yang kita alami saat ini. Aku hendak bertanya kepadamu, berapa lama kita tidak menikmati masa hidup yang mewah, makmur dan sejahtera itu?”,

Istrinya menjawab “Delapan puluh tahun”

“Lalu berapa lama kita telah hidup dalam penderitaan ini?” tanya Nabi Ayyub

“Tujuh tahun” jawab sang isteri

Nabi Ayyub melanjutkan jawabannya “Aku malu, memohon dari Allah membebaskan kita dari kesengsaraan dan penderitaan yang telah kita alami belum sepanjang masa kejayaan yang telah Allah kurniakan pada kita. 

Subhanallah…

 

Ketiga, belajar sabar dengan cara mengalihkan pada kegiatan lain, bukan fokus pada masalah kita. Jika kita sedang menghadapi masalah, kemudian terus memikirkan masalah itu dan larut didalamnya niscaya masalah itu tidak akan pernah selesai. Karena itu,  jika kita sedang tersandung masalah maka alihkan pada kegiatan positif lainnya. Anda bisa mengikuti kajian di majelis taklim, memperbanyak tilawah, dzikir dan doa ataupun menyambung silaturrahmi ke saudara muslim lainnya. Dengan mengalihkan fikiran kita  insyaAllah  masalah yang selalu menggangu fikiran bisa berkurang kadarnya.

 

Keempat, Persepsi waktu. Kita harus mengetahui bahwa waktu di akhirat itu jauh lebih lama daripada di dunia. Maka cobaan apapun yang menimpa kita didunia ini harus kita sadari, bahwa itu hanya berlangsung sebentar saja. Ayo bersama-sama kita merenung, berapa lama hidup kita di dunia ini?

 

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

قَٰلَ إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا ۖ لَّوْ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿١١٤﴾

‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.’ (QS. Al-Mu’minuun:114)

 

 

Kita hidup di dunia ini hanya sebentar. Dalam perhitungan akhirat, kita ini hidup di dunia hanya 1,5 jam saja. Bagaimana bisa?

 

Perhatikan baik-baik ayat ini.

وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ ﴿٤٧﴾

‘Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.’ (Q.S. Al-hajj:47)

 

 

Mari kita analisis berdasarkan Al-Qur’an sebagai sumber kebenaran absolut.

1 hari akhirat = 1000 tahun,

24 jam akhirat = 1000 tahun,

3 jam akhirat = 125 tahun,

1,5 jam akhirat = 62,5 tahun.

Apabila umur manusia itu rata-rata 60-70 tahun, maka hidup manusia ini jika dilihat dari langit hanyalah 1,5 jam saja.

 

MasyaAllah, apakah kita tidak mampu bersabar hanya dalam “1,5 jam saja” di kehidupan dunia ini?

 

Kelima, belajarlah ilmu sabar dari orang tuamu. Berapa lama ia mengasuhmu? Berapa lama ia menggendongmu? Berapa lama ia mengajarimu untuk taat padaNya? Berapa lama ia membiayai kehidupanmu?. Maka selama itulah semestinya kita berbakti pada orang tua kita. Subhanallah… Betapa sabarnya mereka mengasuhmu. Jikalau dihitung masa sisa usiamu untuk sekedar membalas kebaikannya saja maka engkau tak akan mampu membalas kebaikan orang tuamu. Karena itulah sumber belajar yang utama ada pada orang tuamu. Jangan kau sia-siakan dikala orang tuamu masih ada. Berbaktilah pada keduanya sepanjang hidupmu. Semoga Allah membukakan pintu rahmatNya untukmu saudaraku.

 

Saudaraku, itulah lima rahasia sukses belajar sabar di bulan penuh rahmat dan maghfirah Allah ini. Semoga kita dijadikan Allah sebagai golongan orang-orang yang sabar. Termasuk sabar menyelesaikan membaca tulisan panjang ini. Semoga bermanfaat.

 

Sidoarjo, 28 Mei 2017M (2 Ramadhan 1438H)

Tags:

Leave a Reply