30 NOPEMBER – PENSIUN

30 NOPEMBER – PENSIUN

“Bu Lisa, saya pamit. Mulai besok saya cuti besar. Mohon maaf, jika ada salah”.

Aku langsung berdiri dari dudukku. Namanya tak kukenal, wajahnya pun baru kulihat sekarang. Tetapi bahwa dia mendatangiku adalah sebuah pertanda bahwa aku dianggap bagian dari keluarganya.

“Bapak, bekerja di bagian mana, terakhir?”

Berceritalah dia dengan singkat tentang masa kerjanya yang melewati angka 30 tahun. Di akhir ceritanya, dia membungkuk kepadaku sebelum akhirnya pindah ke bagian lain, juga untuk pamitan.

Itu terjadi setelah waktu istirahat siang. Menjelang jam pulang, di sore hari, seorang ibu menghampiri mejaku. Selama ini aku mengenal dia sebagai pegawai yang bekerja di bagian SDM. Bagian tempat dia bekerja dan bagian tempat aku bertugas, berada dalam sebuah ruang besar yang dipisahkan partisi. Lagi lagi aku merasa sebagai bagian dari keluarga, yang harus dipamiti.

“Bu Lisa, saya pamit. Mohon maaf, atas segala kesalahan saya. Mulai besok saya sudah di rumah, menjalani cuti besar”.

Dua sudah, sepengetahuanku, hari ini yang pensiun. Entah bulan depan siapa, atau siapa tahun depan. Aku menatap laptopku, nanar, terdiam. Suatu hari laptop itu tak lagi jadi teman kerjaku, di kantor. Jendela antik di belakangku tak akan lagi tampak sebagai bingkai yang menggambarkan hujan dan mendung Bandung. Aku pun ketika waktunya tiba, akan pamit pada keluarga besarku, Perusahaan tempat aku bekerja. Lebih tepatnya, berpisah dengan moment moment kemanusiaan yang mengiringi pekerjaanku.

Suatu hari.

“Bu Lisa, saya bawa telor bebek. Ibu mau berapa biji?” Ibu En meneleponku. Sekarang dia punya kegiatan baru setelah selesai ngemong cucu. Telor bebek dibelinya di kampung di luar kota Bandung, kampung tempat tinggal orang tuanya. Telor itu kemudian dibawa ke kantor, ditawarkan kepadaku dan teman lainnya.

“Nenek lincah” kujuluki dia. Dia tertawa.
“Untuk mengisi waktu luang” responnya dengan senyum lebar.

Aku menangkap, betapa dia rindu dengan ribuan peristiwa yang sudah terjadi di antara kami. Ibu En dan aku pernah satu divisi. Dia sudah dua bulan “dirumahkan” setelah bekerja lebih dari tiga dasawarsa.

Berpisah dengan teman-teman sekantor, dengan segala kenangan yang menyertainya bukanlah perkara gampang. Sama sulitnya dengan mencari komunitas baru. Tidak selalu tetangga, teman satu RT, teman satu kuliah, bisa menjadi teman seperti teman satu kantor. Beda gaya hidup tampaknya menjadi penyebab paling dominan.

Di samping berpisah dengan pribadi pribadi di kantor, para pensiunan juga harus berpisah dengan kegiatan kantor itu sendiri. Banyak dari kegiatan tersebut yang memberikan prestise yang ketika sudah pensiun menjadi kenangan yang entahlah, harus ditepis atau diingat-ingat. Prestise tersebut biasanya terkait dengan fasilitas kenyamanan yang diterima selama bekerja. Mungkin setelah pensiun, semua kenyamanan tersebut menjadi tampak jauh sangat berharga. Penghargaan yang mungkin selama bekerja, lupa untuk diucapkan apalagi untuk diresapkan.

Budget hotel selama menjabat terasa kurang sreg dibanding hotel berbintang. Begitu juga dengan budget flight. Setelah pensiun, pilihan yang paling realistis akhirnya adalah banyak berdiam di rumah. No traveling anymore. Selama menjabat mungkin ada fasilitas kredit entah untuk mobil atau rumah. Demi menjaga hubungan baik dengan perusahaan leasing maka jabatan pun mungkin perlu dipelihara baik-baik. Setelah pensiun, entahlah. Mungkin pengeluaran BBM pun harus dirinci. Apalagi untuk melanjutkan cicilan. Ketika menjabat, rumah jabatan tampak kurang keren dibanding rumah tetangga. Biasanya rumah dinas pejabat berada di lokasi elite. Setelah pensiun, rumah sendiri terasa jauh lebih sempit. Bahkan ada yang harus tergopoh-gopoh keluar dari rumah dinas sementara rumah pribadi sedang dibangun. Itulah pengalaman Papaku.

“Kayaknya, nanti kalau sudah pensiun, jumlah AC harus dikurangi”, kata sohibku. Kami hampir seumur dan sedang ngobrol ngalor ngidul tentang persiapan untuk kegiatan pensiun.

Selain pertemanan dan fasilitas, adakah di antara kita yang mengenang kilas balik pekerjaan kita sendiri? Bahwa kita pernah menolak pekerjaan A dan pekerjaan B. Bahwa kita dulu suka mengatakan “Ah itu gampang” tanpa pernah menjelaskan bagaimana supaya gampang. Mungkin kita pernah bersuara tinggi ketika rapat. Atau selalu melihat “rumput tetangga lebih hijau”. Atau…

Semoga, ketika pensiun nanti banyak cerita baik tentang pekerjaan dan pertemanan. Cerita yang akan sering diulang-ulang. Cerita yang membanggakan bagi keluarga.

Bandung, 30 11 2016
Lisa Tinaria

Rate this article!
30 NOPEMBER – PENSIUN,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply