10 Tips Saat Kehamilan Pertama

 

Yang ini mungkin khusus perempuan nih 😀 Tapi suami pun boleh membacanya. Agar semakin memahami pasangan masing-masing. “Karena wanita ingin dimengerti” Hahay.

Apa yang Emak lakukan saat pertama kali mendapatkan “dua garis merah muda” saat melakukan testpack?

Mungkin yang sudah pernah membaca artikel saya sebelumnya, tentang pengalaman saya yang lama belum hamil setelah menikah.

Nah, kali ini saya pun membagikan 10 tips menghadapi kehamilan pertama, based on my true story.

 

  1. Pengaruh hormon kehamilan pada masing-masing ibu berbeda. Tidak bisa disamakan. Ada yang mengalami morning sickness. Saya sendiri justru mualnya malam. Ada yang tak berhenti sampai hamil tua masih mual-muntah. Ada yang sampai perlu diopname. Karena setiap fisik manusia itu berbeda, makanya jangan heran. Bersiap-siaplah. Dan jalani prosesnya.

 

  1. Siap untuk segala ketidaknyamanan. Yup. Mudah lelah, mudah emosi, mengidam, itu hanyalah fase yang harus dilalui setiap ibu hamil. Kita harus mempersiapkan, bahkan lebih baik lagi, sebelum menikah sudah harus siap untuk mengalami kehamilan. Seringlah berbagi pada yang lebih dulu mengalami. Dan baca-baca buku tentang kehamilan juga akan membantu.

 

 

  1. Awal kehamilan adalah sangat penting dijaga. Karena disini mulanya janin tertanam di dalam rahim. Ini kata-kata yang pernah disampaikan ayuk kandung waktu saya malas memeriksakan kehamilan. Dikarenakan takut kecewa. Sudah tiga tahun menikah, baru merasakan test pack positif. Awalnya, waktu telat haid, saya tak lantas memastikannya. Namun, beliau meyakinkan saya. Ada baiknya kita tahu lebih awal, untuk berjaga-jaga. Karena saat awal-awal kehamilan, janin masih rapuh. Perlu dijaga sebaik-baiknya. Jangan kelelahan, jangan dulu bepergian. Jaga amanah dari Alloh sebaik-baiknya.

 

  1. Gizi harus dijaga. Saat berbadan dua, apa yang kita makan tak hanya menjadi asupan bagi diri sendiri. Tapi juga kita bertanggung jawab terhadap janin yang kita kandung. Konsultasikan ke dokter kandungan, apa yang tidak boleh kita konsumsi. Begitu pula, saat sakit, misalnya. Selalu sampaikan ke dokter, bahwa kita sedang hamil. Agar diberikan obat yang aman bagi ibu hamil.

 

  1. Suami wajib tahu. Iya, dong! Kan ini anak bersama. Jadi suami selayaknya menjadi orang yang pertama tahu. Saya sendiri, sebenarnya bukan suami yang pertama kali tahu. Tapi ayuk saya. Tapi tentunya setelah yakin benar-benar positif hamil, saya langsung memberitahukan suami.

 

 

  1. Ketika ibu hamil harus bekerja. Nah, ini juga yang saya alami. Maka memang baiknya, atasan dan juga partner bekerja mengetahui kondisi kita sedang hamil, sehingga bisa memaklumi. Batasi pekerjaan kita, jangan terlalu lelah. Barangkali butuh pertolongan orang lain, ya katakan saja. Karena ini hanyalah sebuah fase, bukan untuk selamanya. Nanti, bila terjadi sebaliknya, teman yang dalam kondisi hamil, kita yang maju untuk membantunya. Kerja sama yang baik!

 

  1. Kenali batasan diri. Seperti yang saya sampaikan, tiap manusia fisiknya berbeda. Kemampuannya berbeda. Maka, kitalah yang harus mengenali sejauh mana batas kemampuan diri dan menerimanya. Baik bekerja di luar maupun melakukan aktivitas di rumah, kenali sejauh mana kita bisa melakukan. Jangan memaksakan diri.

 

 

  1. Mitos? Tidak semuanya bisa dipercaya. Ketika mengalami kehamilan pertama, pasti akan ada orang yang mewanti-wanti. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Saya sendiri waktu mengalami sampai stress sendiri. Hahaha. Memang ada yang bisa kita ambil positifnya. Misalkan tidak boleh tidur pagi, ya memang tidak baik. Jangankan untuk ibu hamil. Waktu beristirahat itu di malam hari. Tidur siang boleh, lebih baik sekitar jam dua siang. Tapi kalau mitosnya seperti “jangan sampai orang tahu, sebelum kehamilan empat bulan”. Itu tidak akurat. Tidak ada salahnya orang tahu kita sedang hamil. Yang salah adalah kalau sikap kita terlalu berlebihan dalam menunjukkan kehamilan.

 

 

  1. Percayakan pada Tuhan. Wajar kalau kadang kita cemas akan kehamilan kita. Seperti yang saya alami, kadang terasa perut kram. Namun ketika kontrol ke dokter kandungan, tidak masalah. Itu karena proses penanaman janin di rahim, masih berpindah tempat. Semua sudah mempunyai jalannya sendiri. Ikuti saja prosesnya.

 

 

 

  1. Bersyukurlah selalu atas kehamilan yang dialami. Ini juga akan mengurangi ketidaknyamanan yang kita rasakan akibat kehamilan. Ingat, banyak orang di luar sana yang mendambakan kehamilan. Bagi saya yang sudah melalui kekosongan itu sangat memahami.
Rate this article!
author

Author: 

Leave a Reply